<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ma&#039;had &#039;Aly An-Nuur Liddirosat Al Islamiyah</title>
	<atom:link href="http://an-nuur.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://an-nuur.org</link>
	<description>Sekolah Tinggi Studi Islam</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 19:17:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kaya dan Miskin dalam Islam</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/05/kaya-dan-miskin-dalam-islam/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/05/kaya-dan-miskin-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 10:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[kaya dan miskin]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain.” (QS. Al-zukhruf: 32)   Sesungguhnya banyaknya harta dan keturunan bukan ukuran kebenaran. Harta dan kekayaan bukan yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allah dan menyebabkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em><a href="http://an-nuur.org/2012/05/kaya-dan-miskin-dalam-islam/miskinkaya/" rel="attachment wp-att-868"><img class="alignleft size-medium wp-image-868" style="margin: 10px;" title="miskinkaya" src="http://an-nuur.org/wp-content/uploads/miskinkaya-300x196.png" alt="" width="300" height="196" /></a>“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain.” (QS. Al-zukhruf: 32) </em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p>Sesungguhnya banyaknya harta dan keturunan bukan ukuran kebenaran. Harta dan kekayaan bukan yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allah dan menyebabkan masuk surga. Sesungguhnya yang bisa menjadikan mereka dekat dengan Allah, dimasukkan ke surga dan diselamatkan dari nereka, adalah iman dan amal shalih. Allah swt berfirman:</p>
<p align="center">وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آَمِنُونَ</p>
<p>“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS.Saba’: 37)</p>
<p>Sesungguhnya kaya-miskin merupakan ketentuan Allah. Dia melapangkan rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Begitu juga sebaliknya, menyempitkan rizki dan membatasinya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia sengaja membuat perbedaan itu dengan hikmah yang Dia ketahui.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p align="center">وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ</p>
<p>“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-An’am: 165)</p>
<p>Dan firmanNya:</p>
<p align="center">نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا</p>
<p>“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain.” (QS. Al-zukhruf: 32)</p>
<p>Ibnu Hazm al-Andulisy dalam kitabnya, al-Ushul wa al-Furu’ (1/108) menyinggung tentang kaya dan miskin, mana yang lebih utama?. Menurut beliau, bahwa kaya dan miskin tidak menentukan kemuliaan. Kemuliaan orang kaya dan orang miskin ditentukan oleh amal mereka. Jika amal keduanya sama, maka kemuliaannya pun juga sama. Jika yang kaya lebih banyak beramalnya, maka ia lebih mulia dari orang miskin, begitu juga sebaliknya.</p>
<p>Kemudian beliau menjelaskan tentang hadits tentang orang-orang fakir 40 tahun lebih dulu masuk surga dibandingkan dengan orang kaya, bahwa secara umum para fuqara’ muhajirin lebih dahulu masuk surga daripada orang kaya mereka. Karena orang-orang miskin muhajirin lebih banyak amal shalihnya dibandingkan dengan orang kaya mereka.</p>
<p>Memang benar, dengan menjadi kaya kita bisa berperan lebih untuk dien ini dan bisa menjalankan syariatnya dengan lebih lengkap dan sempurna. Dengannya, kita bisa mendapat limpahan pahala yang tak bisa diraih oleh orang-orang fakir dan miskin.</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin datang kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengadukan kemiskinannya. Mereka berkata, “Orang-orang kaya pergi dengan membawa kedudukan yang tinggi dan kenikmatan abadi. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa melaksanakan haji, umrah, berjihad, dan bershadaqah.”</p>
<p>Lalu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda, “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa menyusul orang yang telah mendahului kalian dan jauh meninggalkan orang yang datang sesudah kalian. Tak seorangpun yang lebih mulia dari kalian kecuali ia melakukan seperti yang kalian lakukan?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulallah.” Beliau bersabda, “Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir  tiga pulah tiga kali setiap selesai shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, “Kaum Fuqara’ Muhajirin datang kembali kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Mereka berkata, ‘Saudara-saudara kami yang kaya mendengar apa yang telah kami kerjakan, lalu mereka juga melakukan amalan serupa?’.” Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam membaca firman Allah,</p>
<p align="center">ذَلِكَ فَضْلُ الله يُؤتِيهِ مَنْ يَشَاءُ</p>
<p>“Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Namun di sisi lain, banyak ayat yang menyebutkan tentang bahaya dunia. Banyak orang yang tergelincir karenanya. Oleh sebab itu Allah sering sekali mengingatkan agar jangan sampai terpedaya dengannya.</p>
<p align="center">فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ</p>
<p>“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (QS. Luqman: 33)</p>
<p>Imam al-Bukhari dalam Shahihnya membuat bab “Al-Muktsiruun Hum al-Muqilluun” (Orang-orang yang banyak harta adalah mereka yang akan miskin pahala pada hari kiamat). Lalu beliau menyebutkan firman Allah Ta’ala,</p>
<p align="center">مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)</p>
<p>Lalu disebutkan sebuah hadits dari Abu Dzar radhiyallahu &#8216;anhu,</p>
<p align="center">إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمْ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا</p>
<p>“Sesungguhnya orang yang banyak harta adalah yang miskin pahala pada hari kiamat kecuali orang yang Allah berikan kebaikan (harta) lalu ia membagikannya ke kanan, kiri, ke arah depan dan belakangnya, serta berbuat yang baik dengannya.” (HR. Bukhari dan Musim) hanya saja orang seperti ini jumlahnya sedikit.</p>
<p>Menurut Abi Dzar, maksud banyak harta dan miskin pahala akhirat berlaku bagi orang yang memiliki banyak harta namun tidak menjalankan pengecualian yang disebutkan sesudahnya, yaitu infaq. (Lihat: Fathul Baari: 11/299)</p>
<p>Maka siapa yang kaya lalu dia gemar berinfak, maka kaya lebih baik daripada miskin. Sebaliknya, siapa yang kalau kaya menjadi pelit dan bakhil, maka miskin lebih baik daripada kaya. (Disarikan dari perkataan al-Qadhi ‘Iyadh yang dinukil dalam Fathul Baari: 11/305)</p>
<p>Maka siapa yang kaya lalu dia gemar berinfak, maka kaya lebih baik daripada miskin. Sebaliknya, siapa yang kalau kaya menjadi pelit dan bakhil, maka miskin lebih baik daripada kaya.</p>
<p>Dan berinfak ini lebih utama dikeluarkan dalam kondisi sehat, memiliki banyak rencana, berharap hidup lebih lama, berangan-angan jadi hartawan, dan takut miskin. Bahkan berinfak dalam keadaan ini lebih utama daripada saat mendekati ajal.</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah ditanya tentang shadaqah yang paling besar pahalanya. Lalu beliau menjawab,</p>
<p align="center">أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى</p>
<p>“Yaitu engkau bershadaqah (infak) pada saat sehat, kikir, takut miskin, dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Namun, kebanyakan orang kaya bakhil mengeluarkan hartanya saat dia sehat dan takut miskin. Maka siapa yang melawan syetannya dan lebih mengutamakan kehidupan akhriat, yaitu dengan tetap berinfak, sungguh dia akan beruntung. Sebaliknya, siapa yang bakhil sehingga enggan berinfak, tidak mengeluarkan zakat, tidak menunaikan wasiat, menutup mata dari orang susah dan peminta-minta, maka ia akan sengsara dan miskin pahala saat harta dan kekayaan tidak lagi berguna.</p>
<p>Kebanyakan orang kaya bakhil mengeluarkan hartanya saat dia sehat dan takut miskin. Maka siapa yang melawan syetannya dan lebih mengutamakan kehidupan akhriat, yaitu dengan tetap berinfak, sungguh dia akan beruntung.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sebenarnya dengan kaya kita bisa meraih pahala yang lebih banyak. Bahkan dengan kekayaan, kita bisa menyokong dan menegakkan perjuangan. Contoh nyatanya, Ustman bin Affan mendapat jaminan surga dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam melalui harta yang dimilikinya. Yaitu saat dia mewaqafkan sumur Rumah dan menginfakkan 300 ekor unta dan seribu Dinar pada perang Khandak. (HR. Bukhari, Bab: Manqib Utsman bin Affan)</p>
<p>Masih riwayat lain, bahwa orang yang meninfakkan dengan sepasang hartanya dipersilahkan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Setiap penjaga pintu surga memanggil dan memprsilahkan ia masuk dari pintu tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim) Maka berusahalah untuk mencari karunia Allah dari harta benda dengan sungguh-sungguh agar bisa beramal lebih banyak dalam Islam.</p>
<p>Hanya saja kalau kaya jangan sampai tertipu dengan hartanya sehingga berbangga diri dan sombong, lupa akhirat dan pelit berinfak. Maka kalau begitu, kaya adalah buruk baginya. Dan kebanyakan orang kaya seperti ini. “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.” (QS.Saba’: 13)</p>
<p>‘Ala Kulli hal, kaya atau miskin bukan ukuran baik dan mulia. Kemuliaan ditentukan oleh iman dan takwa, yaitu dengan bersyukur saat menjadi kaya dan bersabar saat diuji miskin. <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p>Referensi:</p>
<ol>
<li>Ibn Hazm Al Andalusi, Al Ushul Wa Al Furu (Qahirah: Maktabah Ats Tsaqafah Ad Diniyah, 2004) Cet Pertama.</li>
<li>Al Hafidz Ahmad Ibn Hajar Al Asqalani, Fathul Bari Bi Syarhi Shohih Al Bukhori ( Al Qahirah: Dar Al Ma’rifah, 2010) Cet Kedelapan.</li>
<li>Anif Sirsaeba, Berani Kaya, Berani Takwa (Semarang: Republika, 2005) Cet Kedua.</li>
<li>Prof. A. Qodri Azizy,Ph.D, Membangun Fondasi Ekonomi Umat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) Cet Kedua</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/05/kaya-dan-miskin-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membudayakan Karakter Etos Kerja Islami</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/05/membudayakan-karakter-etos-kerja-islami/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/05/membudayakan-karakter-etos-kerja-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 04:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah]]></category>
		<category><![CDATA[etos kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[ma'isyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ryan Arif Etos berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita, dan Kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://an-nuur.org/2012/05/membudayakan-karakter-etos-kerja-islami/semangat/" rel="attachment wp-att-850"><img class="alignleft  wp-image-850" style="margin: 10px;" title="semangat" src="http://an-nuur.org/wp-content/uploads/semangat-300x196.png" alt="" /></a>Oleh: Ryan Arif</strong></p>
<p>Etos berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita, dan Kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniawian atau keakhiratan.</p>
<p>Sebagai agama yang bertujuan mengantarkan hidup manusia kepada kesejahteraan dunia dan akhirat, lahir dan bathin, Islam telah membentangkan dan merentangkan pola hidup yang ideal dan praktis. Pola hidup Islami tersebut dengan jelas dalam Alqur’an dan terurai dengan sempurna dalam sunnah Rasulullah SAW. Itulah sebabnya, penghargaan Islam terhadap budaya kerja bukan hanya sekedar pajangan alegoris, penghias retorika, pemanis bahan pidato, indah dalam pernyataan tetapi kosong dalam kenyataan. Islam membuka pintu kerja setiap muslim agar ia dapat memilih amal yang sesuai dengan kemampuannya, pengalaman, dan pilihannya. Islam tidak membatasi suatu pekerjaan secara khusus kepada seseorang, kecuali demi pertimbangan kemaslahatan masyarakat. Islam tidak akan menutup peluang kerja bagi seseorang, kecuali bila pekerjaan itu akan merusak dirinya atau masyarakat secara fisik atau pun mental.</p>
<p><strong>Karakter Etos Kerja Muslim</strong></p>
<p>Budaya kerja islami bertumpu pada <em>akhlak karimah</em>, umat islam akan menjadikan akhlak sebagai energy batin yang terus menyala dan mendorong setiap langkah kehidupannya dalam koridor jalan yang lurus. Semangat dirinya adalah <em>minallah, fi sabililah, ilallah</em> (dari Allah, di jalan Allah, dan untuk Allah)</p>
<p>Ciri-ciri orang yang mempunyai dan menghayati etos kerja akan tampak dalam sikap dan tingkah laku yang dilandaskan pada satu keyakinan yang mendalam bahwa bekerja itu ibadah dan berprestasi itu indah.Adasemacam  panggilan dari hatinya untuk terus nenerus memperbaiki diri, mencari prestasi dan tampil sebagai bagian dari umat yang terbaik. Adapun karakter etos kerja muslim tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>Pertama: Menghargai Waktu </strong></p>
<p>Salah satu esensi dan hakikat dari etos kerja islami adalah menghayati, memahami dan merasakan betapa berharganya waktu. Dan Waktu adalah asset <em>ilahiyah</em> yang sangat berharga, mengabaikannya akan diperbudak kelemahan namun jika memanfaatkannya dengan baik maka berada di atas jalan keberuntungan. Hal ini sebagaimana firman Allah swt, “ <em>Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” </em>(QS. Al-‘ashr)</p>
<p>Berdasar pada firman Allah di atas, seorang muslim bagaikan kecanduan waktu. Dia tidak ingin ada waktu yang hilang dan terbuang tanpa makna. Jiwanya merintih bila ada satu detik berlalu tanpa makna. Baginya, waktu adalah rahmat yang tidak terhitung. Pengertian terhadap makna waktu merupakan rasa tanggung jawab yang sangat besar atas kemuliaan hidupnya. Sebagai konsekwensinya, dia menjadikan waktu sebagai wadah produktivitas.Adasemacam bisikan dalam jiwanya agar jangan melewatkan barang seditik pun kehidupan ini tanpa memberi arti.</p>
<p><strong>Kedua: Memiliki Niat Yang Ikhlas </strong></p>
<p>Salah satu kompetensi moral yang dimiliki seorang yang berbudaya kerja islami itu adalah nilai keikhlasan. Sehingga ia memandang tugasnya sebagai pengabdian, sebuah keterpanggilan untuk menunaikan tugas-tugas sebagai salah satu bentuk amanah yang seharusnya ia lakukan. Motovasi unggul yang ada hanyalah pamrih pada hati nuraninya sendiri, kalaupun ada imbalan itu bukanlah tujuan utama melainkan sekedar akibat sampingan dari pengabdiannya tersebut.</p>
<p>Sikap ikhlas bukan hanya output dari cara dirinya melayani, melainkan juga input yang membentuk kepribadiannya didasarkan pada sikap yang bersih. Bahkan, cara dirinya mencari rezeki, makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya adalah bersih. Tidak mungkin di dalam tubuh orang yang ikhlas terdapat makanan dan minuman yang haram.  Dengan demikian,ikhlas merupakan energy batin yang akan membentengi diri dari segala yang kotor. Itulah sebabnya Allah swt berfirman,”<em>wa rujza fahjur</em>” dan tinggalkanlah segala bentuk yang kotor.” (Al Muddatstsir: 5)</p>
<p><strong>Ketiga: Memiliki Sifat Jujur</strong></p>
<p>Shadiq (orang yang jujur) berasal dari kata shidq (kejujuran).  Kata shiddiq adalah bentuk penekanan dari shadiq dan berarti orang yang didominasi kejujuran. Dengan demikian, di dalam jiwa seorang yang jujur itu terdapat komponen nilai ruhani yang berpihak kepada kebenaran dan sikap moral yang terpuji.</p>
<p>Prilaku yang jujur adalah prilaku yang diikuti oleh sikap tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya (integritas). Kejujuran dan integritas dapat mendorong sikap untuk siap menghadapi resiko dan bertanggung jawab.</p>
<p><strong>Keempat: Memiliki Sikap Percaya Diri </strong></p>
<p>Pribadi muslim yang percaya diri tampil bagaikan lampu yang benderang, memancarkan raut wajah yang cerah dan berkharisma. Orang yang berada di sekitarnya merasa tercerahkan, optimis, tentram, dan <em>mutma’innah</em>.</p>
<p>Percaya diri melahirkan kekuatan, keberanian, dan tegas dalam bersikap. Orang yang percaya diri, tangkas mengambil keputusan tanpa tanpak arogan atau defensive dan mereka tangguh mempertahankan pendiriannya. Kita menyaksikan sebuah sejarah perjuangan yang sangat monumental ketika Thariq Bin Ziyad membakar seluruh armadanya untuk kemudian hanya menyodorkan dua pilihan. Mundur, kapal telah hangus terbakar dan hanya hamparan samudra yang akan menerkam para pengecut. Maju berarti kemenangan telah ditangan dan kematian dalam sebuah perjuangan suci merupakan kerinduan para syuhada.</p>
<p><strong>Kelima: Memiliki Sikap Bertanggung Jawab</strong></p>
<p>Takwa merupakan bentuk rasa bertanggung jawab yang dilaksanakan dengan penuh rasa cinta dengan menunjukan amal prestatif di bawah semangat pengharapan ridha Allah, sehingga sadarlah bahwa dengan bertaqwa berarti ada semacam nyala api di dalam hati yang mendorong pembuktian atau menunaikan amanah sebagai rasa tanggung jawab yang mendalam atas kewajiban-kewajiban sebagai hamba Allah.</p>
<p>Tanggung jawab mengandung makna menanggung dan memberi jawaban, dengan demikian pengertian taqwa yang kita tafsirkan sebagai tindakan bertanggung jawab dapat didefinisikan sebagai sikap dan tindakan seorang di dalam menerima sesuatu sebagai amanah; dengan penuh rasa cinta, ia ingin melakukannya dalam bentuk pilihan-pilihan yang melahirkan amal prestatif.</p>
<p>Dalam bekerja, seorang individu akan dihadapkan pada tiga bentuk tanggung jawab, yaitu, tanggung jawab terhadap Tuhannya (Allah SWT), dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Dalam kaitannya dengan tanggung jawab terhadap Allah, dapat diperincikan sebagai berikut: </span></p>
<ol>
<li><strong>1.      </strong><strong> Iman sebagai landasan bekerja</strong></li>
</ol>
<p>Bekerja adalah manifestasi keimanan. Dengan kata lain, poros dari kerja adalah tauhid. Hal ini didorong oleh firman Allah:</p>
<p dir="RTL" align="center">قل كل يعمل على شا كلته فربكم اعلم بمن هو اهدى سبيلا</p>
<p>Dalam ayat ini terkandung perintah (<em>amar</em>) yang berarti bahwa hal itu hukumnya wajib dilaksanakan. Ini artinya siapa pun mereka yang secara pasif berdiam diri, tidak mau berusaha untuk bekerja, maka dia telah menghujat perintah Allah, dan sadar atau tidak, sesungguhnya orang tersebut sedang menggali kubur kanistaan bagi dirinya sendiri. Iman kepada Allah mendasari setiap aktivitas kerja seseorang.</p>
<p>Landasan keimanan menghindarkan manusia untuk mengeksploitasi terhadap sumber-sumber alam dengan cara yang melampaui batas. Sesungguhnya rezeki Allah itu melimpah tak terbatas, namun Allah juga menetapkan takaran dan ukuran, sehingga manusia tidak bisa seenaknya saja melakukan eksploitasi melampaui batas. Hal ini bisa terjadi karena sifat manusia yang loba dan cenderung melampaui batas. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Jika Allah melapangkan rezeki-rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, Padahal Allah mengatur apa yang dikehendakinya dengan ukuran-ukuran”. Oleh sebab itu, manusia harus bisa mengendalikan dirinya, antara lain dengan cara bersyukur yang berarti menyadari karunia Allah yang murah itu sehingga ia mampu bertindak rasional.</p>
<ol>
<li><strong>2.      </strong><strong> Senantiasa Bersyukur</strong></li>
</ol>
<p>Manusia diperintahkan untuk senantiasa bersyukur atas rezeki yang diperolehnya, bersyukur karena terlepas dari mara bahaya dan dianugerahkan nikmat kehidupan. Manusia tidak boleh menyombongkan diri atas kelebihan-kelebihan yang telah diperolehnya, karena semua itu hanya titipan dari Allah yang diberikan kepadanya. Untuk mewujudkan rasa syukur itu, manusia diperintahkan untuk menunaikan shalat dan berkorban. Dari perspektif psikologis, perasaan bersyukur akan memberi kepuasan pada diri sendiri, selanjutnya akan menghilangkan rasa resah jika memperoleh sesuatu yang dicita-citakan. Islam juga mengajarkan agar manusia melihat ke bawah yaitu mereka yang kurang bernasib baik supaya jiwa mereka tenang. Pengaruh kejiwaan terbesar yang muncul dari rasa bersyukur adalah ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli atau dinilai dengan uang.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Sedangkan dalam kaitannya dengan tanggung jawab individu pada diri sendiri dapat diperincikankan sebagai berikut:</span></p>
<p><strong>1.      </strong><strong> Bekerja sebagai kewajiban</strong></p>
<p>Islam mewajibkan manusia untuk bekerja. Bekerja bukanlah bertujuan untuk mendapatkan uang semata sehingga mampu belanja apa saja atau memaksimalkan konsumsi, akan tetapi bekerja merupakan media untuk membuktikan bahwa manusia itu adalah <em>khalifatullah</em> yang patuh mengikuti perintah Allah SWT.</p>
<p>Dalam hadis disebutkan, yang artinya “Seseorang yang keluar mencari kayu bakar (lalu hasilnya dijual) untuk bersedekah dan menghindari ketergantungan kepada manusia, itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau pun ditolak. Karena sesungguhnya tangan yang di atas (memberi) itu lebih baik daripada tangan di bawah (meminta).” (HR Muslim).</p>
<p><strong>2.      </strong><strong> Bekerja harus halal dan baik</strong></p>
<p>Dalam hadis disebutkan bahwa bekerja mencari rezeki yang halal hukumnya adalah wajib. Ini dimaksudkan agar manusia dengan berbagai unsurnya yaitu jasmani dan rohani dapat hidup secara sehat. Untuk sehat jasmani dan rohani, antara lain makanan harus <em>thayyib</em> dan <em>halal</em>. <em>Thayyib</em> artinya baik, bersih, dan tidak basi, masih valid, dan sebagainya. Ini syarat untuk sehat jasmani. Sementara <em>halal</em>, makanan yang halal adalah syarat untuk menjadi sehat rohani.</p>
<p><strong>3.      </strong><strong>Menempuh jalan yang lurus (</strong><em><strong>Sirat al-Mustaqim</strong></em><strong>)</strong></p>
<p>Pada umumnya setiap manusia memiliki tujuan mulia yaitu menjadi manusia bermanfaat dan hidup secara sempurna serta berkecukupan. Banyak ayat al-Quran yang mendorong manusia untuk mencapai kesuksesan dan kebenaran dengan senantiasa beramal baik menuju harapan dan cita-citanya. Dalam mewujudkan cita-cita, manusia harus tetap berpegang teguh pada jalan Allah yang merupakan jalan yang lurus. Allah berfirman yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Jalan lurus yang dimaksud adalah “Jalan yang telah diberi nikmat Allah ke atas mereka, dan bukan jalan yang dimurkai, juga bukan jalan orang-orang yang sesat”.</p>
<p><strong>4.      </strong><strong>Sabar</strong></p>
<p>Sabar merupakan sifat terpuji yang sangat sering disebut dalam al-Quran. Dalam menjalani kehidupannya, manusia tentu akan menghadapi berbagai macam peristiwa, baik peristiwa yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Di antara peristiwa yang menyedihkan seperti kesempitan rezeki, kelaparan, bencana, dan lain-lain. Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menyedihkan, manusia diminta bersabar. Jika manusia berduka cita menghadapi kesusahan-kesusahan, Allah memerintahkan mereka untuk menunaikan shalat, berdoa kepada Allah dan bersabar. Apabila ditimpa musibah, hendaknya mengucapkan dan menghayati firman Allah: ”Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jua kami kembali”. (QS al-Baqarah: 156).</p>
<p><strong>Keenam: Memiliki Insting Bertanding (Fastabiqul Khoirat) </strong></p>
<p>Semangat bertanding merupakansisi laindari citra seorang muslimyang memiliki semanagat jihad. Panggilan untuk bertanding dalamsegalalapangan kebajikan dan meraih prestasi, dihayatinya dengan rasa penuh tanggung jawab sebagai pembuktian firman Allah swt; “<em>Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Seungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al ba1qarah:148) </em>dan<em> </em>Seorang mujahid dan ciri pribadi muslim yang mempunyai etoskerja islami tidak pernah menyerah pada kegagalan. <strong></strong></p>
<p><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p>Dari paparan yang telah dikemukakan, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Islam sebagai agama dan ideologi mendorong pada umatnya untuk bekerja keras, namun tidak melupakan beribadah. Islam sebagai agama yang <em>syamil </em>dan <em>kamil</em> juga memberikan <em>guideline</em> tentang etos kerja yang menjadikan kerja itu bukan hanya sebagai mencari rezeki akan tetapi lebih dari berdimensi transendental dan sekaligus identitas kemanusiaannya itu sendiri. <em>Wallahu a’lam</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/05/membudayakan-karakter-etos-kerja-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Selalu Salahkan Anak</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/05/jangan-selalu-salahkan-anak/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/05/jangan-selalu-salahkan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 04:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[jangan salahkan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=841</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Qodri Abu Hanan Terus terang saya amat terkesan dengan penuturan yang disampaikan M. Musrofi dalam bukunya “Melesatkan Prestasi Akademik Siswa”. Ia menyebutkan, ilustrasi berikut ini bisa kita jadikan renungan tentang bagaimana selama bertahun-tahun, boleh jadi kita selalu memposisikan anak dalam posisi SALAH: Ketika bangun pagi. Apakah tadi pagi Anda memarahi anak Anda ketika ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://an-nuur.org/2012/05/jangan-selalu-salahkan-anak/anak-tertekan/" rel="attachment wp-att-844"><img class="alignleft  wp-image-844" style="margin: 10px;" title="anak tertekan" src="http://an-nuur.org/wp-content/uploads/anak-tertekan-300x196.png" alt="" /></a>Oleh: Qodri Abu Hanan</strong></p>
<p>Terus terang saya amat terkesan dengan penuturan yang disampaikan M. Musrofi dalam bukunya “Melesatkan Prestasi Akademik Siswa”. Ia menyebutkan, ilustrasi berikut ini bisa kita jadikan renungan tentang bagaimana selama bertahun-tahun, boleh jadi kita selalu memposisikan anak dalam posisi SALAH:</p>
<ul>
<li>Ketika bangun pagi. Apakah tadi pagi Anda memarahi anak Anda ketika ia sulit bangun pagi? Kalau ya, ini kesalahan pertama pada anak Anda. Lalu Anda memarahi anak Anda ketika ia sulit mandi pagi? Ini kesalahan kedua anak Anda. Kemudian Anda juga memarahinya ketika sulit makan pagi? Ini kesalahan ketiga anak Anda. O ya, mungkin Anda memarahi anak Anda ketika ia tidak segera berangkat sekolah? Ini kesalahan keempat anak Anda.</li>
<li>Di sekolah. Mungkin sang guru akan memarahi anak Anda karena tidak memperhatikan saat gurunya menerangkan. Berarti ini kesalahan kelima anak Anda. Barangkali anak Anda juga berantem dengan temannya. Kemudian ia dipanggil oleh guru bimbingan konseling terus dimarah-marahi. Ini kesalahan keenam anak Anda.</li>
<li>Siang atau sore hari. Anak Anda pulang sekolah tanpa ganti pakaian langsung bermain sepakbola dengan anak tetangga. Anda langsung memarahi anak Anda, belum apa-apa sudah langsung bermain. Ini kesalahan ketujuh anak Anda. Anda kembali memarahinya ketika anak Anda tidak bersegera mandi sore, ini kesalahan kedelapan anak Anda.</li>
<li>Malam hari. Anak Anda ogah-ogahan mengerjakan PR. Ketika diajari tidak paham-paham. Kembali Anda marah-marah padanya. Berarti ini kesalahan kesembilan anak Anda.</li>
<li>Saat jam tidur. Anak Anda tidak segera tidur, bahkan main-main atau nonton TV. Lagi-lagi Anda memarahinya. Ini kesalahan kesepuluh anak Anda.</li>
</ul>
<p>Dengan demikian, kalau dihitung berarti kurang lebih ada sepuluh kesalahan yang dikerjakan anak Anda dalam sehari semalam. Anak Anda selalu salah setiap hari. Kalau mengatakan salah kepada anak tersebut sehari atau dua hari mungkin tidak terlalu bermasalah. Namun apa jadinya jika setiap hari selama bertahun-tahun sang anak selalu dijadikan obyek kesalahan dan kekurangan? Apakah ia bisa merasa bahagia di rumah? Apakah ia bisa merasa bahagia di sekolah?</p>
<p><strong>Akibat selalu disalahkan</strong>              <strong></strong></p>
<p>Jika di rumah dan sekolahan bukan tempat yang membahagiakan mereka, lalu di mana anak Anda merasa benar dan bisa berbahagia?</p>
<p>Boleh jadi ia akan mencari kebahagiaan dengan bermain bersama teman sebaya di tempat tetangga. Atau nongkrong di gang-gang kampung sambil menggoda orang yang sedang lewat. Kalau sudah menginjak usia SMA boleh jadi ia akan lebih jauh mencari komunitas yang bisa membahagiakan hatinya dan membenarkan tindakannya. Jangan-jangan ia merasa benar dan berbahagia saat-saat ber-narkoba. Saat kebut-kebutan di jalan. Saat-saat berzina dengan teman perempuannya. Atau saat tawuran di jalanan.  Na’udzu billahi min dzalik.</p>
<p>Saya pernah kaget ketika membaca berita Solo Pos tentang seorang anak yang bunuh diri gara-gara sambal. Kisahnya, ada seorang anak yang bernama Agung, ia berangkat mancing bersama teman-temannya. Setelah mendapatkan beberapa ekor ikan, segera ia pulang ke rumah dan menyerahkan ikan tersebut kepada ibunya untuk di goreng. Selain menggoreng, sang ibu juga membuat sambal. Maklum mereka dari keluarga yang kurang mampu, sehingga makan ikan dengan sambel merupakan menu yang istimewa. Tapi begitu kecewanya Agung, ternyata ikan hasil jerih payahnya dihabiskan adiknya. Terjadilah keributan antara Agung dengan adiknya. Mendengar suara ribut-ribut sang ibu justru memarahi Agung, agar mengalah dengan adiknya. Akhirnya tanpa banyak bicara, ia pergi begitu saja dari meja makan. Setelah ditunggu beberapa lama tidak kembali, sang ibu pun mencarinya. Begitu kagetnya, ternyata Agung sudah tidak bernyawa. Jasadnya tergantung di seutas tali.</p>
<p><strong>Bahaya marah</strong></p>
<p>Dalam sebuah penilitian, sang peneliti menempatkan alat alat canggih ke tubuh seorang anak yang terhubung ke monitor dan komputer. Dan dia dalam kondisi tenang, terlihat di monitor layar penelitian membentuk gambar yang sangat indah. Diafragma warna warni penuh keharmonisan, sangat beraturan dan sangat indah. Hingga pada akhirnya, sang anak dimarahi. Apa akibatnya?? diafragma warna warni yang harmonis dan beraturan tersebut hancur berantakan menjadi tak berbentuk dan merusak keindahan susunan warna. Secara langsung. Sang peneliti berujar, bahwa diafragma warna warni itu menggambarkan syaraf otak dari si anak.</p>
<p>Dan dari percobaan penelitian itu jelas menggambarkan bahwa ketika anak tenang, kondisi damai dan tidak dimarahi susunan saraf otak itu berirama indah sesuai tugasnya. Namun ketika dimarahi, sekonyong konyong susunan saraf otaknya menjadi tak berirama dengan indahnya. Artinya terjadi gangguan disana.</p>
<p>Meskipun marah pada anak ada nilai positifnya, sebaiknya orangtua perlu menghindarinya. Setidaknya, jangan terlalu sering marah pada anak. Orangtua yang bisa mengelola emosinya dengan baik akan berdampak pada perkembangan pribadi anak yang juga baik.</p>
<p>Anak dapat mengembangkan rasa percaya diri melalui rasa aman yang tercipta. Anak juga mampu mengembangkan kematangan emosinya, tanggung jawab, kemandirian, dan anak sehat secara mental karena berada di lingkungan yang penuh rasa aman, tenteram, dan diwarnai kegembiraan.</p>
<p>Jadi, mari kita berusaha sekuat tenaga untuk tidak memarahi anak kita. Kalaupun ingin memarahinya, pergunakanlah hikmah, lembut sehingga tidak mengganggu susunan saraf otak anak. Rasulullah saw bersabda:</p>
<p><em> “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Terakhir, sebelum kita mengeluh tentang anak-anak kita, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul. Wallahul Musta’an.</p>
<p><strong>Sumber: Majalah YDSUI April 2012</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/05/jangan-selalu-salahkan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Macam Air (bagian 1)</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/05/tiga-macam-air-bagian-1/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/05/tiga-macam-air-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 04:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[macam air]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Imtihan Syafi’i Allah menciptakan air dengan beragam manfaat. Selain menjadi wasilah utama berlanjutnya kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia; manfaat terbesar air adalah dapat digunakan untuk mensucikan dan membersihkan tubuh dan pakaian dari najis, juga mensucikannya dari hadats besar dan kecil. “Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan.” (Al-A’raf: 57) Dan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><a href="http://an-nuur.org/2012/05/tiga-macam-air-bagian-1/air/" rel="attachment wp-att-813"><img class="alignleft  wp-image-813" style="margin: 10px;" title="air" src="http://an-nuur.org/wp-content/uploads/air-300x196.png" alt="" /></a>Oleh: Imtihan Syafi’i</strong></p>
<p>Allah menciptakan air dengan beragam manfaat. Selain menjadi wasilah utama berlanjutnya kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia; manfaat terbesar air adalah dapat digunakan untuk mensucikan dan membersihkan tubuh dan pakaian dari najis, juga mensucikannya dari hadats besar dan kecil.</p>
<p>“Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan.” (Al-A’raf: 57)</p>
<p>Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (Al-Anbiya`: 30)</p>
<p>Parafuqaha mengklasifikasi air menjadi tiga macam: air <em>thahur</em> (suci dan mensucikan), air <em>thuhur</em> (suci namun tidak mensucikan), serta air mutanajjis (najis, tidak suci dan tidak mensucikan).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Air Thahur</strong></p>
<p>Parafuqaha sering menyebut air <em>thahur</em> ini dengan air mutlak. Yaitu semua air yang turun dari langit—air hujan, salju, dan embun—atau yang bersumber dari bumi—air sumur, air mata air, air sungai, air danau, dan air laut—baik yang tawar maupun yang asin.</p>
<p>“Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih.” (Al-Furqan: 48)</p>
<p>“Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk mensucikan kamu dengan (hujan) itu.” (Al-Anfal: 11)</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, “Laut itu airnya suci-mensucikan dan bangkai (binatang yang hidup di dalam)nya halal.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)</p>
<p>Juga, “Sesungguhnya air itu suci-mensucikan. Dia tidak menjadi najis kecuali jika berubah bau, rasa dan warnanya.” (HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan Imam Ahmad)</p>
<p>Parafuqaha sepakat, selama air ini tidak terpengaruh oleh benda lain sehingga berubah ketiga sifatnya (warna, bau dan rasa) maka ia tetap suci dan mensucikan, baik jumlahnya banyak maupun sedikit. Adapun bila salah satu atau lebih dari ketiga sifatnya berubah, para fuqaha membedakan antara perubahan yang diakibatkan oleh benda suci dan yang diakibatkan oleh benda najis.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pengaruh Benda Suci</strong></p>
<p>Apabila suatu benda suci jatuh ke dalam air atau dilewati air sehingga salah satu dari tiga sifat air berubah, para ulama membedakan antara benda-benda yang jatuh atau dilewati air yang umumnya tak mungkin dihindari—seperti batu, tanah, lumut, dedaunan, ranting kayu gaharu/cendana, minyak bumi, garam, ikan, bangkai ikan, belerang, besi, berbagai bahan tambang, dan berbagai bebatuan mineral—dengan benda-benda yang jatuh ke dalam air yang dapat dikontrol manusia seperti gula, susu, kopi, madu, minyak wangi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Paraulama sepakat, jika sifat air berubah oleh benda suci yang umumnya tak mungkin dihindari maka air tetap pada hukum asalnya: suci dan mensucikan. Itulah sebabnya air yang tergenang atau disimpan dalam waktu yang lama, tetap dihukumi suci dan mensucikan meskipun warna, bau dan rasanya berubah. Air ledeng yang berubah warna, bau dan rasanya oleh karena karat pipa yang dilewatinya atau kaporit untuk menjernihkannya termasuk jenis air ini.</p>
<p>Sedangkan jika sifat air berubah oleh benda suci yang umumnya dapat dikontrol oleh manusia sehingga manusia tidak lagi menyebutnya air dan menyebutnya dengan sebutan lain, maka hukumnya berubah dari <em>thahur</em> menjadi <em>thuhur</em>. Dari suci mensucikan menjadi suci tidak mensucikan. Contohnya adalah air teh, air kopi, air sirup, air sabun, air yang dicampur dengan pewarna makanan atau kain, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apabila perubahan sifat air itu tidak selamanya hal mana benda suci yang mencampurinya terpisah, mengendap, atau dapat dipisahkan, maka air kembali ke sifat asalnya. Misalnya, air yang dicampur dengan tanah yang banyak. Ketika berwujud lumpur—meskipun air dan tanah sama-sama dapat digunakan untuk bersuci: wudhu, mandi, dan tayamum—kita tidak diperbolehkan berwudhu atau mandi dengan lumpur itu. Baru setelah tanah mengendap sehingga ketiga sifat air kembali, maka air pun kembali suci mensucikan. Dasarnya adalah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi saw dan istri beliau mandi dengan menggunakan bejana besar yang ada endapan tepung di dalamnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Air Sisa Minum Kucing</strong></p>
<p>Parafuqaha madzhab Hanafi menyatakan bahwa air sedikit sisa minum kucing sebaiknya tidak digunakan untuk bersuci. Menurut mereka, hukumnya makruh tanzih apabila ada air lain yang dapat digunakan. Sisa minum binatang lain yang tak terhindar dari najis, seperti ayam yang dilepas sehingga makan najis, ular, tikus dan sebagainya disamakan dengan sisa minum kucing.</p>
<p>Meskipun bila ditinjau dengan kaidah umum sisa minum binatang-binatang tersebut adalah najis, namun berdasarkan istihsan, untuk memudahkan manusia, sisa minum mereka dihukumi suci. Sebab, binatang-binatang tersebut memang selalu berada di sekitar manusia. Pun Nabi saw. telah menyatakan bahwa sisa minum kucing adalah suci.</p>
<p>‘Aisyah bertutur, “Rasulullah saw pernah mengulurkan wadah kepada kucing untuk tempat minum. Kemudian beliau berwudhu dengan sisa air yang diminum kucing itu.” (HR. Ad-Daruquthni)</p>
<p>Namun, jika tidak ada air lain selain air sisa minum binatang tersebut di atas, maka tidaklah makruh. Adapun menurut para fuqaha madzhab Syafi’i, mulut kucing dan sisa minumnya adalah suci.</p>
<p>Mengenai pengaruh benda najis, insya Allah akan dibahas pada edisi mendatang. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><em>Sumber: Majalah YDSUI edisi April 2012</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/05/tiga-macam-air-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Sebagai Pakaian dan Siang Untuk Mencari Penghidupan</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/05/malam-sebagai-pakaian-dan-siang-untuk-mencari-penghidupan/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/05/malam-sebagai-pakaian-dan-siang-untuk-mencari-penghidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 04:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja dan istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[ma'isyah]]></category>
		<category><![CDATA[penghidupan]]></category>
		<category><![CDATA[rejeki]]></category>
		<category><![CDATA[rizki]]></category>
		<category><![CDATA[siang dan malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tengku Azhar                     وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11) &#8220;Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.&#8221; (QS. An-Naba&#8217;: 10-11) Tafsirul Ayat Imam Ath-Thabari –rahimahullah- menyebutkan, &#8220;Dan telah kami jadikan malam bagi kalian sebagai penutup, yang kegelapannya menutupi kalian sehingga kalian menjadi tenang, sebagai pakaian menutupi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center">Oleh: Tengku Azhar</p>
<p dir="LTR">                    وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (10) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (11)</p>
<p dir="LTR">&#8220;Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.&#8221; (QS. An-Naba&#8217;: 10-11)</p>
<p dir="LTR"><strong>Tafsirul Ayat</strong></p>
<p dir="LTR">Imam Ath-Thabari –rahimahullah- menyebutkan, &#8220;Dan telah kami jadikan malam bagi kalian sebagai penutup, yang kegelapannya menutupi kalian sehingga kalian menjadi tenang, sebagai pakaian menutupi jasad pemakainya sehingga ia pun menjadi tenang. Dan telah kami jadikan siang bagi kalian agar kalian bertebaran di muka bumi ini untuk mencari penghidupan kalian, dan agar kalian bebas melakukan apa saja yang bisa mendatangkan kemaslahatan duniawi kalian.&#8221;</p>
<p dir="LTR">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin –rahimahullah- menjelaskan, &#8220;Yakni Allah menjadikan malam sebagai pakaian yang menyelimuti bumi, seolah-olah jilbab yang menutupinya. Hal ini tidak akan dapat diketahui secara sempurna kecuali dengan melihatnya langsung dari atas bumi. Kami telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat menakjubkan ketika menaiki pesawat terbang, saat itu matahari tenggelam ke permukaan bumi, kami saksikan seolah bumi diselimuti dengan kain hitam. Dan Allah telah menjadikan siang sebagai waktu untuk mencari penghidupan. Manusia mencari rezeki di siang hari sesuai dengan kedudukan dan keadaan mereka masing-masing. Ini merupakan salah satu nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya.</p>
<p dir="LTR"><strong>Siang dan Malam Merupakan Tanda-tanda Kekuasaan Allah</strong></p>
<p dir="LTR">Siang dan malam merupakan bukti kekuasaan Allah yang tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang bisa menandingi-Nya. Mahabenar Allah yang telah berfirman:</p>
<p dir="RTL">وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آَيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آَيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آَيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا (12)</p>
<p dir="LTR">&#8220;Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang agar kamu  (dapat) mencari karunia dari Rabbmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun  dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.&#8221; (QS. Al-Isra`: 12)</p>
<p dir="LTR">Kemudian Allah menjelaskan lagi:</p>
<p dir="RTL">            إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)</p>
<p dir="LTR">&#8220;Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan (air) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 164)</p>
<p dir="LTR">Al-Hafizh Abu Bakar Mardawaih telah meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari shahabat Ibnu Abbas –radhiyallahu &#8216;anhu- ia berkata:</p>
<p dir="LTR">&#8220;Orang-orang Quraiys dating kepada Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam seraya berkata, &#8216;Hai Muhammad, sesungguhnya kami menginginkan engkau mendoakan kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan bukit Shafa ini emas buat kami. Untuk itu maka kami akan membeli kuda dan senjata dengannya, dan kami akan beriman kepadamu serta berperang bersamamu&#8217;. Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam menjawab, &#8216;Berjanjilah kalian kepadaku, sekirang aku berdoa kepada Tuhanku, kemudian Dia menjadikan bagi kalian bukit Shafa emas, kalian benar-benar beriman kepadaku&#8217;. Maka mereka mengadakan perjanjian dengan Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam untuk hal tersebut. Kemudian Nabi berdoa kepada Tuhannya, dan datanglah malaikat Jibril kepadanya seraya berkata, &#8216;Sesungguhnya Tuhanmu sanggup menjadikan bukit Shafa emas buat mereka, dengan syarat jika mereka tidak juga beriman kepadamu, maka Allah akan mengadzab mereka dengan siksaan yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun di antara makhluk-Nya.&#8217; Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam berkata, &#8216;Wahai Tuhanku, tidak, lebik baik biarkanlah aku dan kaumku. Aku akan tetap menyeru mereka dari hari ke hari&#8217;. Maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menurunkan firman-Nya:</p>
<p dir="LTR">&#8220;Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan (air) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 164)</p>
<p dir="LTR"><strong>Siang Untuk Bekerja Malam Untuk Istirahat</strong></p>
<p dir="LTR">Merupakan karunia dan nikmat Allah yang Maha Agung, Dia telah menjadikan untuk hamba-hamba-Nya siang sebagai waktu untuk bekerja dan mencari penghidupan. Serta menjadikan malam sebagai waktu untuk beristirahat.</p>
<p dir="LTR">Dia Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL">            فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون</p>
<p dir="LTR">“Apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kamu di di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.&#8221; (QS. Al-Jumu&#8217;ah: 10)</p>
<p dir="LTR">Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertebaran ke muka bumi dalam rangka mencari penghidupannya setelah shalat Jum&#8217;at dilaksanakan. Ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan menggunakan waktu siang kita untuk bekerja dan menggunakannya untuk mencari kemaslahatan duniawi kita, sehingga kehidupan seorang mukmin itu menjadi seimbang.</p>
<p dir="LTR">Dia Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p dir="RTL">            وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ</p>
<p dir="LTR">&#8220;Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.&#8221; (QS. Al-Qashash: 77)</p>
<p dir="LTR">Dan ketahuilah bahwa bagian siang yang paling banyak mengandung berkah adalah pagi harinya. Karenanya suatu ketika Shahabat Ibnu Abbas –radhiyallahu &#8216;anhu- melihat anaknya sedang tidur pagi, maka ia berkata, &#8220;Bangunlah, apakah kamu tidur pada waktu disebarkan rezeki?&#8221;</p>
<p dir="LTR">Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Ummul Mukminin Aisyah –radhiyallahu &#8216;anha-, bahwa Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam telah bersabda, &#8220;Bersegeralah dalam mencari rezeki dan kebutuhan (hajat), karena dalam kesegeraan (pergi pagi) itu terdapat keberkahan dan kesuksesan.&#8221; (HR. At-Tirmidzi)</p>
<p dir="LTR">Dalam riwayat lain disebutkan:</p>
<p dir="RTL">          عَنْ صَخْرٍ الْغَامِدِىِّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا ». وَكَانَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَوْ جَيْشًا بَعَثَهُمْ فِى أَوَّلِ النَّهَارِ. وَكَانَ صَخْرٌ رَجُلاً تَاجِرًا وَكَانَ يَبْعَثُ تِجَارَتَهُ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ فَأَثْرَى وَكَثُرَ مَالُه</p>
<p dir="LTR">Dari Shakhr bin Wada&#8217;ah Al-Ghamidi –radhiyallahu &#8216;anhu- dari Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam ia bersabda, &#8220;Ya Allah berkahilah untuk umatku pada pagi harinya.&#8221; Jika beliau mengutus pasukan perang, maka beliau mengutuskan pada pagi hari. Shakhr adalah seorang pedagan yang biasa mengirimkan barang dagangannya pada pagi hari, maka ia menjadi kaya raya dan banyak harta.&#8221; (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits hasan shahih)</p>
<p dir="LTR">Kemudian dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah menjadikan malam sebagai tempat dan waktu untuk beristirahat dari segala kepenatan dan kelelahan di siang hari.</p>
<p dir="LTR">Maha Benar Allah yang telah berfirman:</p>
<p dir="RTL">            وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا</p>
<p dir="LTR">&#8220;Dialah yang menjadikan untukmu malam sebagai pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk berusaha.&#8221; (QS. Al-Furqan: 47)</p>
<p dir="LTR">Dan Dia telah berfirman:</p>
<p dir="RTL">          وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p dir="LTR">&#8220;Dan Dialah yang menidurkanmu pada malam hari, dan kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditentukan, kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.&#8221; (QS. Al-An&#8217;am: 60)</p>
<p dir="LTR">Dan firman-Nya:</p>
<p dir="RTL">          قُلْ مَنْ يَكْلَؤُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمَنِ بَلْ هُمْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِمْ مُعْرِضُونَ</p>
<p dir="LTR">&#8220;Katakanlah, &#8216;Siapa yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?&#8217; Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingat Rabb mereka.&#8221; (QS. Al-Anbiya&#8217;: 47)</p>
<p dir="LTR">Karenanya, jika telah datang waktu pagi maka janganlah kita menunggu-nunggu datangnya waktu sore, dan apabila telah datang waktu sore maka janganlah kita menunggu-nunggu datangnya waktu pagi. Wallahu &#8216;Alamu bish Shawab.</p>
<p dir="LTR">sumber: Majalah YDSUI April 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/05/malam-sebagai-pakaian-dan-siang-untuk-mencari-penghidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Hurairah Penghulu Para Penghafal</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/05/hello-world/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/05/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 14:15:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Uswah]]></category>
		<category><![CDATA[abu hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Abu Hurairah, adalah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin, terkhusus lagi di tengah para peneliti hadits Rasulullah –shallahu &#8216;alaihi wa sallam-, bagaimana tidak, nama beliau terulang sebanyak 5374 [Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Hazm, Ibnu Jauzi dan ad-Dzahabi –rahimahumullah jami'an-, jumlah tersebut berdasarkan Kitab Musnad Baqii bin Makhlad, lihat Majmu-ah Rasa-il Haditsiyah jilid [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Hurairah, adalah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin, terkhusus lagi di tengah para peneliti hadits Rasulullah –shallahu &#8216;alaihi wa sallam-, bagaimana tidak, nama beliau terulang sebanyak 5374 [Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Hazm, Ibnu Jauzi dan ad-Dzahabi –rahimahumullah jami'an-, jumlah tersebut berdasarkan Kitab Musnad Baqii bin Makhlad, lihat Majmu-ah Rasa-il Haditsiyah jilid 2 hal 710-711] kali di tiap lembar buku-buku hadits para ulama kita, jumlah yang sangat fantastis untuk seorang periwayat hadits, bahkan beliau ditahbiskan sebagai sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits dari Nabi kita tercinta, namun sekali lagi sungguh amat disayangkan, mayoritas kaum muslimin  tidak mengetahui nama asli dari sahabat yang mulia ini.</p>
<p>Nama asli beliau jarang disebut, hal ini karena sahabat yang mulia ini lebih masyhur dengan kunyah [nama julukan]-nya yaitu Abu Hurairah atau Abu Hir, dan Rasulullah memanggil beliau dengan kedua kunyah tersebut[Lihat Shohih al-Bukhari 1/391 no hadits: 285 dalam hadits ini beliau dipanggil dengan kunyah Abu Hir, dan lihat juga  9/517 no hadits: 5375, dalam hadits ini beliau dipanggil Abu Hurairah.], penyebab dari masyhurnya kunyah ini adalah sifat sayang beliau terhadap kucing. Adapun nama Abu Hurairah yang ditarjihkan oleh mayoritas ulama adalah Abdurrahman bin Shokhr ad-Dausi, Allahu a&#8217;lam. [Taqribut Tahdzib   2/483 versi Maktabah Syamilah, Siyar A'lamin Nubala  2/578 versi Maktabah Syamilah]</p>
<p>Keislamannya</p>
<p>Abu Hurairah adalah seorang pemuda dari suku Daus, suku ini berasal dari negeri Yaman, tentunya beliau adalah seorang yang memeluk agama nenek moyangnya sebelum masuk ke dalam agama Islam. Abu Hurairah masuk Islam di negerinya sendiri  atas dakwah At-Thufail bin Amar ad-Dausi masuk islam ketika Nabi masih berada di Mekah sebelum beliau berhijrah ke madinah. Oleh karena itu Ibnu Hajar al-Asqalani [wafat tahun 852 H], Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu&#8217;allimi [wafat tahun 1386 H], Syaikh Musthofa as-Siba&#8217;iy [wafat tahun 1385 H] menjelaskan bahwa proses masuknya Abu Hurairah ke dalam islam adalah sejak sebelum hijrahnya Nabi, Namun beliau terlambat untuk berhijrah hingga perang Khaibar.[ Fathul Bari 12/208 versi Maktabah Syamilah, al-Anwar al-Kasyifah 145, as-Sunnah Wa Makanatuha Fi Tasyri' al-Islami 359]</p>
<p>Kehebatannya dalam meriwayatkan hadits</p>
<p>Imam Hakim [wafat tahun 405 H] dalam al-Mustadrak meriwayatkan dengan sanadnya kepada Abu Zu&#8217;aizi&#8217;ah –sekretaris Marwan Bin Hakam-, bahwa khalifah Marwan bin Hakam memanggil Abu Hurairah, dan khalifah memerintahkan aku duduk di belakang singgasana, maka kemudian khalifah mulai bertanya tentang hadits-hadits dan akupun mulai menulisnya ke dalam catatanku. Kemudian setelah satu tahun berselang dari kejadian tersebut, khalifah memanggil Abu Hurairah kembali, dan beliau memerintahkan agar aku [Abu Zu'aizi'ah] duduk di belakang tirai, maka khalifahpun mulai bertanya tentang hadits yang ditanyakan tahun lalu, dan aku mulai memeriksa catatanku, ternyata Abu Hurairah tidak meleset meskipun satu huruf[19].</p>
<p>Abu Hurairah adalah penghafal hadits yang hebat dari kalangan shahabat. Kehebatan tersebut tidak lepas dari kedekatannya Dengan Nabi dan kesungguhannya untuk Senantiasa Bermulazamah Dengan Beliau. Kedua hal ini bukan satu hal sulit bagi Abu Hurairah karena beliau adalah salah seorang Ahlus Shuffah.</p>
<p>Abu Hurairah menuturkan, “Sesungguhnya manusia mengatakan, ‘sungguh Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits!!, dan sesungguhnya jika bukan karena dua ayat dalam al-Qur&#8217;an niscaya aku tidak akan meriwayatkan sebuah hadits-pun, kemudian beliau membaca firman Allah. (artinya) :&#8221;Sungguh, orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan dan petunjuk, setelah Kami tunjukkan kepada manusia dalam kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh orang yang melaknat. kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah maha penerima tobat&#8221;[ Al-Baqarah 159-160]. Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan muhajirin disibukan dengan perniagaan di pasar, sedangkan saudara kami dari kalangan Anshor disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, sedangkan Abu Hurairah senantiasa melazimi Rasulullah –shallallahu &#8216;alaihi wasallam- dengan kenyangnya perutnya, dan dia menghadiri ta&#8217;lim-ta&#8217;lim yang tidak dihadiri para sahabat yang lain, dan menghafal hadits-hadits yang tidak dihafal oleh para sahabat yang lainnya.[ Shohih Bukhari 1/213]</p>
<p>Selain itu, khebatan hafalan Abu Hanifah juga tidak bisa terlepas dari buah mukjizat kenabian, Dari Abu Hurairah, beliau berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengarkan hadits yang banyak darimu, namun aku melupakannya. Maka Rasulullah mengatakan: hamparkanlah selendangmu!!, maka aku hamparkan selendangku, maka Nabi mengambilnya dengan tangannya, kemudian beliau bersabda: peluklah selendangmu!!, maka akupun memeluklnya, dan aku tidak lupa sedikitpun setelah itu.[ Shahih Bukhari 1/214]</p>
<p>Dan dalam riwayat Imam al-Hakim [wafat tahun 405 H], an-Nasa-i [wafat tahun 303 H] dan yang lainnya, menceritakan bahwa di suatu waktu Zaid bin Tsabit [wafat tahun 45 atau 48 H, dan sebagian ulama mengatakan setelah tahun 50 H], Abu Hurairah serta seorang sahabat yang lainnya, berdo&#8217;a di hadapan Nabi Muhammad, Zaid bin Tsabit dan seorang sahabat yang lain berdo&#8217;a terlebih dahulu dan Nabi mengamini do&#8217;a mereka, lalu Abu Hurairah-pun berdoa kepada Allah dan mengucapkan:</p>
<p dir="RTL">اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْألُكَ مِثْلَ الَّذِيْ سَأَلَكَ صَاحِبَايَ هَذَانِ، وَأَسْأَلُكَ عِلْمًا لاَ يُنْسَى</p>
<p>Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seperti yang dimohon kedua saudaraku tadi, dan berilah aku ilmu yang tidak terlupakan.[ Al-Mustadrak karya al-Hakim 14/237 versi Maktabah Syamilah]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ad-Dzahabi [wafat tahun 748 H] mengatakan: [Abu Hurairah] adalah penghulu para penghafal.[ Siyar A'lamun Nubala 2/578]</p>
<p>Beliau juga mengatakan: hafalan Abu Hurairah yang luar biasa adalah buah dari mu&#8217;jizat kenabian.[ Siyar A'lamun Nubala 2/594]</p>
<p>Oleh karena itu Ibnu Hajar [wafat tahun 852 H] menukil ijma&#8217; bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang terbanyak menghafal hadits Nabi, beliau mengatakan: sungguh ahli hadits telah bersepakat bahwa Abu hurairah adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadits Nabi.[ Al-Ishobah 4/202]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/05/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khaulah binti Tsa’labah radhiyallahu ‘anha</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/04/khaulah-binti-tsalabah-radhiyallahu-anha/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/04/khaulah-binti-tsalabah-radhiyallahu-anha/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 01:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kang admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uswah]]></category>
		<category><![CDATA[haulah]]></category>
		<category><![CDATA[haulah bintu tsa'labah]]></category>
		<category><![CDATA[wanita yg didengar suaranya oleh allah dari langit ketujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=747</guid>
		<description><![CDATA[Wanita yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`. Khaulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><em>Wanita yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh</em></p>
<p>Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.<span id="more-747"></span></p>
<p>Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.</p>
<p>Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan Nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”</p>
<p>Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun Rasulullah tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.</p>
<p>Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.</p>
<p>Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah.</p>
<p>Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), <em>“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,</em>…sampai firman Allah, <em>“dan bagi oranr-orang kafir ada siksaan yang pedih.”</em> (Al-Mujadalah:1-4)</p>
<p>Kemudian Rasulullah menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:</p>
<p>Nabi, “Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang budak.”</p>
<p>Khaulah, “Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.”</p>
<p>Nabi, “Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut.”</p>
<p>Khaulah, “Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.”</p>
<p>Nabi, “Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin.”</p>
<p>Khaulah, “Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.”</p>
<p>Nabi, “Aku bantu dengan separuhnya.”</p>
<p>Khaulah, “Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah”.</p>
<p>Nabi, “Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.” Maka Khaulah pun melaksanakannya.</p>
<p>Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam  yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.</p>
<p>Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, <em>“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…”</em> (Al-Mujadalah: 1)</p>
<p>Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab  saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.</p>
<p>Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya.”</p>
<p>Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”</p>
<p>SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW,  karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/04/khaulah-binti-tsalabah-radhiyallahu-anha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spirit Toleransi dakwah dan Jihad Islam</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/04/spirit-toleransi-dakwah-dan-jihad-islam/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/04/spirit-toleransi-dakwah-dan-jihad-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 03:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kang admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tsaqofah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi dakwh dan jihd]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ryan Arief Rahman Tidak ada dalam islam ajaran yang membolehkan memusuhi orang lain hanya  karena beda agama. Islam adalah agama yang sangat  menjunjung tinggi  kedamaian dan kemanusiaan. Karenanya menegakkan kedamaian di tengah kehiduan manusia adalah inti utama ajaran islam. Disebut dengan al-islam karena di antara maknanya adalah as-salam (kedamaian). Toleransi Bukan Pluralisme Toleransi adalah sikap menghormati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh: Ryan Arief Rahman</p>
<p>Tidak ada dalam islam ajaran yang membolehkan memusuhi orang lain hanya  karena beda agama. Islam adalah agama yang sangat  menjunjung tinggi  kedamaian dan kemanusiaan. Karenanya menegakkan kedamaian di tengah kehiduan manusia adalah inti utama ajaran islam. Disebut dengan al-islam karena di antara maknanya adalah <em>as-salam</em> (kedamaian).<span id="more-743"></span></p>
<p><strong>Toleransi Bukan Pluralisme</strong></p>
<p>Toleransi adalah sikap menghormati aqidah orang lain, tidak saling menyakiti dan mengejek, sementara pluralisme adalah sikap menganggap sama semua agama. Yang pertama dibolehkan dan bahkan diperintahkan, sementara yang kedua diharamkan. Karenanya tidak benar melakukan toleransi dengan menggelar pluralisme. Sebab pluralisme adalah tindak penghancuran terhadap agama. Karenanya banyak pemikir agama yang beranggapan bahwa pluralisme adalah agama baru. Seorang muslim wajib toleran terhadap pemeluk agama lain: <strong>pertama</strong>, islam sangat menghormati manusia sebagai manusia, apapun agamanya.  Sebab ia ciptaan Allah swt. Maka  siapa yang menghina ciptaan Allah berarti ia menghina penciptanya. Abu Abdurrahman Bin Abu Laila meriwayatkan bahwa Sahl Bin Hanif dan Qois Bin Saad pernah berdiri dari duduknya ketika lewat di depannya jenazah. Lalu dikatakan kepadanya bahwa itu jenazah <em>ahludz dzimmah</em>. Keduanya menjawab bahwa Rasulullah saw perna berdiri dari duduknya ketika di depannya lewat jenazah seorang yahudi. Salah seorang sahabat memberitahukan bahwa jenazah itu seorang yahudi. Rasulullah saw menjawab:” bukankah ia seorang manusia?” (Bukhori: no 1250) kok terhadap manusia, terhadap binatangpun islam mengajarkan kasih sayang. Rasulullah saw pernah menceritakan kepada sahabat-sahabatnya mengenai seorang yang kehausan lalu ia turun ke dalam sumur, dan ketika naik ia menemukan seekor anjing terengah-engah kehausan. Seketika itu ia turun lagi mengambil air dengan sepatunya dan meminumkannya kepada anjing tersebut. Rasulullah lalu bersabda, “Allah berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya.Para sahabat bertanya, sampai berbuat baik kepada binatangpun kita mendapat pahala? Rasulullah saw menjawab, “berbuat baik kepada setiap yang hidup dan berjantung ada pahalanya.” (bukhori no 2234) Bukan hanya itu, Rasulullah saw melaknat orang-orang yang menganiaya binatang. Dari Ibnu Umar  bahwa Rasulullah saw bersabda, “pasti diadzab seorang wanita yang memenjara kucingnya kelaparan sampai mati, dan ia akan dimasukan kedalam neraka. Ia tidak memberinya makan dan tidak pula membiarkannya cari makan sendiri dari apa yang ada di muka bumi.” (Bukhori no 2236)</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Allah swt berfirman, “<em>laa ikraaha fiddin</em>” (tidak ada paksaan untuk memasuki agama islam) (Al-Baqarah:256). Ini menunjukan bahwa: a) adanya perbedaan agama adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Dan masing-masing manusia diberi kebebasan memilih antara ikut agama Allah atau ikut agama yang mereka bikin sendiri. Tetapi ini bukan berarti semua agama sama-sama benar. Sebab kebebasan memilih aqidah yang diyakini adalah juga kebebasan untuk siap menerima segala resiko. Sudah bisa dipastikan bahwa jika mereka ikut agama Allah, Allah akan memberinya pahala. Sebaliknya jika mereka ikut agama  yang mereka bikin sendiri, mereka harus mempertanggungjawabkan sendiri di hari kiamat kelak. b) Allah tidak mengizinkan pemaksaan dalam memilih agama. Dengan kata lain tindak memaksa orang lain untuk memilih suatu aqidah tertentu bukan ajaran Allah. Dalam  kaedah syari’ah dikatakan: <em>natrukuhum wa maa yadinun</em> (biarkan saja masing-masing mereka menentukan pilihan aqidah mana yang ia suka). Dengan demikian tidak ada dalam ajaran islam bahwa seorang muslim boleh mengintimidasi orang lain  supaya ia pindah ke dalam islam. Karenanya dalam sejarah perjalanan Negara islam orang orang non muslim (<em>ahludz dzimmah</em>) tetap dihormati, dan hak-hak mereka dipenuhi.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Allah swt berfirman,” dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Al An’am:108). Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dari Qotadah bahwa orang-orang islam tadinya mengejek tuhan-tuhan yang disembah orang orang kafir, lalu mereka membalas dengan mengejek Allah. Maka Allah turunkan ayat tersebut. (Tafsir Quranul Adzim, hal 262). ayat di atas menunjukan bahwa umat islam harus bersikap toleran kepada tuhan-tuhan mereka. Toleran dalam arti tidak melemparkan ejekan terhadap tuhan-tuhan yang mereka agungkan. Sebab tindakan tersebut akan menyebabkan bahaya yang lebih besar yaitu ejekan balik kepada Allah swt. Dari sini Nampak bahwa bersikap toleran terhadap pemeluk agama lain bukan semata kewajiban social melainkan lebih dari merupakan sikap mempertahankan hakikat tauhid itu sendiri. Sampai disini kita memahami betapa sikap toleran terhadap pemeluk agama lain adalah inti ajaran islam, namun makna toleransi yang demikian agung ini tidak berarti lantas boleh menganggap islam sama dengan semua agama. (baca: pluralisme)</p>
<p>Tidak, islam tidak sama dengan agama lain. Benar, dalam masalah kemanusiaan islam sangat toleran, tetapi dalam masalah aqidah islam tetap tegas. Tegas bukan berarti keras, melainkan tegas dalam arti tetap mempertahankan prinsip bahwa islam berbeda dengan agama agama lain.</p>
<p><strong>Berdakwah, Masih Termasuk Toleran</strong></p>
<p>Dakwah adalah tindakan mengajak orang lain kepada kebenaran islam. Istilah dakwah ini diambil dari firman Allah swt, “ serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl:125)</p>
<p>Di sini Nampak bahwa langkah seorang da’I bukan memaksa atau mengintimidasi orang lain beda agama, melainkan hanya berusaha menampilkan argumentasi  kepada siapa saja yang didakwahi, agar bisa menerima apa yang ia sampaikan. Seorang da’I tidak boleh memaksa, sebab tindak pemaksaan bertentangan dengan spirit toleransi yang Allah ajarkan. Allah swt berfirman, “maka berilah peringatan, karena sesunggguhnya kamu hanyalah orang yang member peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (Al-Ghasiyah: 21-22)</p>
<p>Sampai kepada fir’aun pun Allah masih mengajaran Nabi Musa dan Nabi Harun agar berdakwah dengan cara yang lembut, Allah swt berfirman, “pergilah kamu berdua kepada fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha:43-44)</p>
<p>Ini menunjukan bahwa spirit dakwah sebenarnya bukan memaksa melainkan menyampaikan argumentasi. Dengan demikian tiak ada alasan untuk mengatakan bahwa kegiatan dakwah bertentangan dengan toleransi. Sebagai ilustrasi, perhatikan indahnya islam dalam menyikapi <em>ahludz dzimmah</em>. Sungguh tidak ada bukti bahwa umat islam melakukan pemaksaan terhadap <em>ahludz dzimmah</em> agar mereka beriman. Dari kata <em>adzdzimmah</em> saja, yang artinya tanggung jawab Nampak bahwa islam telah meletakkan mereka dengan posisi dan pelayanan khusus. Maksudnya mereka di bawah tanggungjawab Allah, Rasul dan kaum muslimin. Imam Al Qarafi berkata, ‘para  <em>ahludz dzimmah</em> jika suatu saat akan diserang oleh sekelompok <em>muharib,</em> maka umat islam wajib menghadang serangan tersebut sampai titik darah penghabisan, demi membela mereka yang berada di bawah tanggung jawab Allah dan RasulNya.” (Al Furuq, hal.29) Imam Bukhori meriwayatkan bahwa Umar Bin Khatab berkata, “aku berwasiat kepada kalian agar menjaga <em>dzimmah</em> Allah, karena sesungguhnya  ia juga merupakan <em>dzimmah</em> nabi kalian.” (Shohih Bukhori, no.2991) dalam riwayat lain Umar melanjutkan pernyataannya, “hendaknya memenuhi janji terhadap mereka, berperang membela mereka, dan tidak membebani mereka di luar kemampuan mereka.” (Bukhori, no2887)</p>
<p><strong>Spirit Toleransi Jihad</strong></p>
<p>Dalam arti perang (<em>al qital</em>) disyari’atkan bukan untuk memaksa orang lain beriman, sebab Allah melarang melakukan pemaksaan <em>laa ikraha fi ad din</em>. Jihad disyari’atkan untuk mengatasi hambatan-hambatan dakwah yang tidak bisa diatasi kecuali dengan jihad. Maka jika hukum Allah bisa diteggakkan dengan dakwah, berarti dalam kondisi tersebut tidak perlu jihad. Dengan demikian pemahaman yang selama ini berkembang bahwa islam disebarkan dengan pedang adalah pemahaman yang kurang lengkap. Sebab tidak selamanya islam menyebar dengan pedang. Pedang digunakan untuk menghadapi pasukan musuh yang mengajak perang atau menyerang.</p>
<p>Banyak orang terpengaruh propaganda, sehingga fakta di bolak balik, akibatnya setiap mendengar kata jihad, seketika muncul anggapan bahwa islam tidak toleran. Padahal orang-orang yang memusuhi islam lah yang tidak toleran. Dari propaganda ini tergambar kemudian bahwa orang-orang islam yang membela tanah airnya, membela harga dirinya dan hak-haknya dianggap tidak toleran sementara mereka yang menyerang dan merampas hak-hak umat islam serta menjajah tanah air dianggap toleran.</p>
<p>Dengan demikian jelas bahwa konsep jihad dalam islam bukan untuk intimidasi dan paksaan, melainkan lebih sebagai benteng untuk menunjukan bahwa umat islam bukan umat yang lemah. Bahwa untuk meneggakkan ajaran Allah harus tampil wibawa sehingga tdak mudah dipermainkan musuh. Dan ternyata benar, sebab ketika umat islam kuat pada generasi awal (baca: pada zaman Rasulullah, Khulafa Rasyidin dan pada zaman Khalifah Umar Bin Abdul Aziz) tersebarlah kedamaian. Pada saat itu setiap kedzaliman sekecil apapun mendapatkan balasan yang setimpal. Termasuk <em>ahludz dzimmah</em> tidak seorangpun  dari mereka yang dianiaya. Dan tempat-tempat ibadah mereka dilindungi. Dan inilah yang ingin ditegaskan Syaikh Abu Hasan An Nadwi dari bukunya Madza Khasiral Alam Min Khitathil Muslimin bahwa ketika umat islam kuat dan berwibawa masyarakat dunia ikut merasakan nikmatnya, sebaliknya bila umat islam terpuruk dalam dunia ketidakberdayaan, dunia mengalami kehancuran multi dimensional.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Untuk melihat lebih jauh lagi, mengenai bagaimana indahnya toleransi dalam islam, penulis tutup dengan dua ayat dari suratAl Mumtahanah 8-9 yang menurut Dr. Yusuf Qardawi kedua ayat itu merupakan pedoman untuk mengatahui bagaimana islam menyikapi pemeluk agama lain. <strong>Pertama</strong>, Allah berfirman, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada  memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” <strong>Kedua</strong>,  “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.”</p>
<p>Ayat pertama berisi dorongan agar tidak hanya bertindak adil terhadap non muslim  yang tidak memerangi umat islam, melainkan lebih dari itu dorongan agar berbuat baik (al bir). Dalam kata <em>al bir</em> terkandung makna kebaikan yang lebih luas dari pada <em>al qisth</em>. Disini Nampak betapa toleransi dalam islam mencakup segala lapangan kebaikan, sepanjang orang orang non muslim tersebut tidak bertindak dzalim, memerangi dan memusuhi. Sebaliknya, pada ayat kedua, digambarkan bahwa jika ternyata orang-orang non  muslim tersebut bertindak dzalim dengan memerangi atau mengusir umat islam dari tanah airnya, maka mereka tidak pantas sama sekali disikapi secara adil dan tidak pula di hormati apalagi berbuat baik terhadap mereka. Bahkan disini <span style="text-decoration: underline;">kekuatan jihad harus ditegakkan dan digelar</span>.</p>
<p>Sekarang jelaslah sudah, betapa toleransi dalam islam hanya berlaku bagi semua non muslim yang tidak memerangi dan tidak bertindak dzalim terhadap umat islam. Adapun bagi non muslim yang memerangi dan bertindak dzalim, tidak ada toleransi bagi mereka. Sebab mereka sendiri tidak mau bersikap toleran.</p>
<p>Referensi:</p>
<p>-          Bukhori, Shohih Al Bukhori (Bairut: Dar Ibn Katsir, 1987)</p>
<p>-          Syamsudin As Syrahsi, Al Mabsuth (Bairut: Dar Ma’rifah, Ttt)</p>
<p>-          Ibnu Katsir, Tafsie Qur’anul Adzim (Bairut: Dar Kutub Al Ilmiyah, 1986)</p>
<p>-          Imam Al Qarafi, Al Furuq (Bairut: Dar Kutub Al Ilmiyah, 1998)</p>
<p>-          Yusuf Qardhawi, Al Halalu Wa Al Haram Fi Al Islam (Bairu:  Al Ittihad Al Islami Al Alami, 1989)</p>
<p>-          Syaikh Abul Hasan An Nadwi, Madza Khasiral Alam Min Khitahtil Muslimin (Saudi Arabia: Maktabah Nizar Mustafa Al Baaz, 2001)</p>
<p><strong>Sumber: Majalah YDSUI maret 2012</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/04/spirit-toleransi-dakwah-dan-jihad-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Pemugaran Masjid Nabawi</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/04/pelajaran-dari-pemugaran-masjid-nabawi/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/04/pelajaran-dari-pemugaran-masjid-nabawi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 03:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kang admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyah]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan umar]]></category>
		<category><![CDATA[keberanian]]></category>
		<category><![CDATA[kejujuran]]></category>
		<category><![CDATA[pemugaran masjid nabawi]]></category>
		<category><![CDATA[umar bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[umar bin khattab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Imtihan Syafi’i  “Aku ingin memperluas masjid,” kata ‘Umar setelah menjabat sebagai khalifah. “Sekiranya aku tidak pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Seyogianya masjid ini diperluas,’ aku tidak akan memperluasnya sedikit pun,” sambungnya. Maka, pada tahun 17 Hijriyah Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab memulai proyek pemugaran dan perluasan masjid Nabawi. ‘Umar membangun tiang masjid Nabawi dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh: Imtihan Syafi’i</strong></p>
<p><a href="http://an-nuur.org/wp-content/uploads/04.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-739" style="margin: 10px;" title="04" src="http://an-nuur.org/wp-content/uploads/04-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a> “Aku ingin memperluas masjid,” kata ‘Umar setelah menjabat sebagai khalifah. “Sekiranya aku tidak pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Seyogianya masjid ini diperluas,’ aku tidak akan memperluasnya sedikit pun,” sambungnya.</p>
<p>Maka, pada tahun 17 Hijriyah Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab memulai proyek pemugaran dan perluasan masjid Nabawi. ‘Umar membangun tiang masjid Nabawi dari batu bata dan mencopot semua kayu lalu memancangkannya di arah kiblat. ‘Umar membeli semua rumah di sekitar masjid kecuali rumah ‘Abbas bin ‘Abdulmuthallib dan rumah istri-istri Nabi.<span id="more-738"></span></p>
<p>Kepada ‘Abbas ‘Umar berkata, “Wahai Abu Fadhal, sesungguhnya masjid ini telah penuh sesak oleh kaum muslimin. Aku telah membeli semua rumah di sekitarnya untuk memperluas masjid demi keperluan mereka kecuali rumahmu dan kamar-kamar <em>ummahatulmukminin</em> (istri-istri Nabi). Terkait dengan kamar-kamar ummahatulmukminin, tidak ada cara untuk mengambilnya. Terkait dengan rumahmu, maka juallah kepadaku seharga berapa pun yang akan aku ambilkan dari baitulmal kaum muslimin untuk keperluan memperluas masjid mereka.”</p>
<p>“Aku tidak akan melakukannya,” jawab ‘Abbas.</p>
<p>“Pilihlah salah satu dari tiga opsiku ini,” kata ‘Umar, “Engkau jual kepadaku dengan harga berapa pun dari baitulmal, aku gambar untukmu sekehendakmu dari Madinah ini lalu kubangunkan untukmu dengan biaya penuh dari baitulmal, atau engkau sedekahkan rumahmu kepada kaum muslimin sehingga masjid mereka dapat diperluas.”</p>
<p>“Tidak. Aku tidak mau memilih salah satu dari ketiganya,” ‘Abbas bersikukuh.</p>
<p>‘Umar berkata, “Jika demikian, pilihlah seseorang yang kamu kehendaki untuk menyelesaikan masalah antara aku dan kamu ini!”</p>
<p>“Ubay bin Ka’ab,” jawab ‘Abbas.</p>
<p>Maka keduaya menemui Ubay dan menceritakan apa yang terjadi di antara keduanya. Ubay menjawab, “Jika kalian mau, kusampaikan kepada kalian sebuah hadits. Kudengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Dawud untuk membangun sebuah rumah untuk mengingat-Nya. Dawud menggambar gambar itu—yakni batas-batas Baitulmaqdis. Kesempurnaan bentuk perseginya berada di pojok rumah salah seorang Bani Israil. Dawud memintanya agar menjualnya kepadanya. Orang itu menolaknya. Maka terbersit di hati Dawud untuk mengambil paksa. Maka Allah berfirman, ‘Wahai Dawud, Aku perintahkan kamu untuk membangun rumah untuk mengingat-Ku, lalu kamu hendak memasukkan ke dalam rumah-Ku suatu pemaksaan. Aku tidak mau ada pemaksaan. Hukuman bagimu: kamu tidak perlu membangunnya!’ Dawud berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana jika anakku?’ Allah menjawab, ‘Ya, biar anakmu yang membangunnya.’.”</p>
<p>Mendengar hadits itu ‘Umar menarik kerah baju Ubay seraya berkata, “Aku datang kepadamu dengan suatu perkara, namun kamu menyampaikan yang lebih berat lagi! Kamu harus berbicara di depan banyak orang terkait dengan apa yang barusan kamu sampaikan!”</p>
<p>Kemudian ‘Umar membawa Ubay ke masjid dan dihadapkan pada sekelompok orang yang di antara mereka ada beberapa orang sahabat Nabi saw. Ubay menyampaikan hadits Baitulmaqdis saat Allah memerintahkan Dawud untuk membangunnya. Semua sahabat yang mendengar hadits itu mengingatnya. Abu Dzar berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah saw.” Yang lain menimpali, “Aku juga mendengarnya—yakni dari Rasulullah saw.”</p>
<p>Maka ‘Umar melepaskan Ubay. Begitu dilepaskan, Ubay berdiri tegak tepat di hadapan ‘Umar seraya berkata, “Wahai ‘Umar! Apakah kamu menuduhku berdusta atas nama Nabi saw?”</p>
<p>‘Umar menjawab, “Wahai Abu Mundzir, aku tidak menuduhmu. Aku hanya ingin agar hadits Rasulullah saw ini didengar banyak orang.”</p>
<p>Lantas kepada ‘Abbas, ‘Umar berkata, “Pergilah! Aku tidak akan menawarkan apa-apa lagi terkait dengan rumahmu.”</p>
<p>‘Abbas menjawab, “Jika itu yang kamu ucapkan, maka aku menyedekahkannya untuk kaum muslimin. Perluaslah masjid mereka! Namun jika kamu ingin berhadap-hadapan denganku, aku tidak akan melepaskan rumahku.”</p>
<p>Akhirnya ‘Umar menggambar rumah ‘Abbas di Zaura` dan membangunnya dengan biaya dari baitulmal kaum muslimin.</p>
<p>Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari sepenggal kisah yang terjadi menjelang pemugaran masjid Nabawi di atas. Pelajaran tentang persaudaraan, keberanian, kejujuran, ketulusan, komitmen kepada Sunnah, dan berbagai kebajikan lain yang dibawakan oleh ‘Umar bin Khattab, ‘Abbas bin ‘Abdulmuthallib, dan Ubay bin Ka’ab di atas.</p>
<p>Meskipun ‘Umar menjabat posisi khalifah, ia tidak sewenang-wenang. Dia tidak memaksakan kehendaknya kepada ‘Abbas. Namun, dengan ketundukannya kepada keputusan Ubay yang telah dipilihnya, tanpa diduganya, ia mendapatkan jalan keluar.</p>
<p>‘Abbas bin ‘Abdulmuthallib, meskipun termasuk keluarga besar Rasulullah saw, ia tidak sombong. Meski semula banyak yang mengira ia seorang yang egois, ternyata sebenarnya ia hanya benar-benar menjaga keikhlasan dan kebersihan amal. Dia tidak ingin ada faktor pendorong lain untuk amal shalih yang akan dilakukannya.</p>
<p>Ubay, meskipun di hadapan ‘Umar yang terkenal tegas-keras dan ‘Abbas yang penuh kharisma, tidak gentar dan ragu untuk menyampaikan kebenaran. Kebenaranlah yang mesti dibela. Tak perlu takut celaan ataupun intimidasi dari pihak lain. Baginya, yang terpenting adalah menyampaikan kebenaran. Sesudah itu, biarlah terjadi apa yang terjadi.</p>
<p><strong>Sumber: Majalah YDSUI edisi Maret 2012</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/04/pelajaran-dari-pemugaran-masjid-nabawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DR. Ahmad Zain An Najah</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/04/dr-ahmah-zain-an-najah/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/04/dr-ahmah-zain-an-najah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 04:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kang admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Unduhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=732</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object style="height: 390px; width: 640px;" width="640" height="360" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/wLxAY8aV1m4?version=3&amp;feature=player_detailpage" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed style="height: 390px; width: 640px;" width="640" height="360" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/wLxAY8aV1m4?version=3&amp;feature=player_detailpage" allowFullScreen="true" allowScriptAccess="always" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" /></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/04/dr-ahmah-zain-an-najah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

