<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ma&#039;had &#039;Aly An-Nuur</title>
	<atom:link href="http://an-nuur.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://an-nuur.org</link>
	<description>Sekolah Tinggi Studi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 13:54:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Syubhat Dalam Sebutir Telur</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/02/syubhat-dalam-sebutir-telur/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/02/syubhat-dalam-sebutir-telur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 12:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[makah halal]]></category>
		<category><![CDATA[muslihat hajjaj bin yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[terkabulnya doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Imtihan Syafi’i Ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berhasil menguasai ‘Iraq, tidaklah ia menugaskan seseorang untuk menjabat di sana dan mengatur rakyat ‘Iraq melainkan tidak berumur panjang. Orang-orang ‘Iraq yang tidak rela dengan kezhaliman yang merajalela mendoakan kebinasaan bagi siapa saja yang menjadi wakil Hajjaj di ‘Iraq. Hajjaj pun memutar otak liciknya. Hajjaj meminta seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Imtihan Syafi’i</strong></p>
<p>Ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berhasil menguasai ‘Iraq, tidaklah<br />
ia menugaskan seseorang untuk menjabat di sana dan mengatur rakyat<br />
‘Iraq melainkan tidak berumur panjang. Orang-orang ‘Iraq yang tidak<br />
rela dengan kezhaliman yang merajalela mendoakan kebinasaan bagi siapa<br />
saja yang menjadi wakil Hajjaj di ‘Iraq.<span id="more-567"></span><br />
Hajjaj pun memutar otak liciknya. Hajjaj meminta seluruh penduduk<br />
‘Iraq untuk memberinya masing-masing sebutir telur ayam dan<br />
meletakkannya di beranda masjid Jami’. Dikatakannya, ia sangat<br />
membutuhkannya. Penduduk ‘Iraq menganggapnya sebagai sesuatu yang<br />
sepele dan bukan merupakan kemungkaran. Mereka merasa tidak punya<br />
alasan untuk menolaknya. Maka berbondong-bondong mereka menuju masjid<br />
Jami’ dengan sebutir telur di tangan masing-masing. Tanpa menaruh<br />
curiga sedikit pun mereka meletakkan telur-telur itu begitu saja di<br />
beranda masjid.</p>
<p>Setelah semua orang meletakkan telur-telur yang mereka bawa, Hajjaj<br />
melancarkan siasat busuknya. Dikatakannya, ia berubah pikiran. Dia<br />
tidak butuh telur-telur ayam itu. Dia mempersilakan penduduk ‘Iraq<br />
untuk membawa pulang telur-telur itu. Beribu tanya berlompatan di hati<br />
penduduk ‘Iraq. Apa gerangan maunya si pendosa durjana itu. Dengan<br />
mulut terkunci atau sekedar bisik dan gumam, masing-masing pulang<br />
dengan membawa sebutir telur. Mereka pikir, jika yang diambilnya bukan<br />
telur miliknya, pastilah itu telur milik saudaranya yang pasti<br />
merelakannya barang miliknya tertukar.</p>
<p>Dari kejauhan, Hajjaj memandang kepulangan penduduk ‘Iraq dengan<br />
tersenyum puas. Pendosa itu tahu, rencananya berhasil tanpa cela. Dia<br />
lega. Kini ia bisa menjanjikan keselamatan bagi siapa saja yang<br />
menjadi wakilnya, tanpa takut doa dan kutukan penduduk ‘Iraq.<br />
Sampai di rumah masing-masing, penduduk ‘Iraq belum menyadari bahwa<br />
Hajjaj telah berhasil menipu mereka. Mereka menjalani hari-hari<br />
seperti biasa. Dan seperti biasa pula mereka mendoakan kebinasaan<br />
wakil si pendosa durjana yang duduk di kursi tertinggi di ‘Iraq.</p>
<p>Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, penduduk ‘Iraq menunggu<br />
kebinasaan penguasa baru itu. Namun, kabar kematian yang biasanya tak<br />
pernah mereka tunggu lama tak kunjung tiba. Mereka mulai mawas diri.<br />
Mereka menginstropeksi diri. Mereka pun menyadari bahwa mereka telah<br />
ditipu mentah-mentah oleh Hajjaj. Mereka kalah siasat. Telur yang<br />
mereka bawa pulang yang kemudian mereka rebus atau goreng beberapa<br />
waktu yang lalu, mereka pastikan bukan telur milik mereka. Telur<br />
syubhat telah menghalangi pengabulan doa-doa mereka. Tapi apalah daya,<br />
nasi telah menjadi bubur. Sesal kemudian tiada guna. Tinggal kesabaran<br />
menghadapi kezhaliman Hajjaj yang dapat mereka hadirkan.</p>
<p><strong>Akidah tentang Makanan Halal</strong><br />
Mengomentari kisah di atas, Ibnul Haj (737 H.) berkata, “Karena hal<br />
inilah hari ini kezhaliman merata. Banyak doa dipanjatkan agar para<br />
pelakunya binasa, namun sedikit sekali yang dikabulkan jika bukan<br />
malah tak ada… sekiranya penduduk suatu negeri selamat dari keadaan<br />
itu lantas berdoa, niscaya doa mereka dikabulkan.”</p>
<p>Ahlussunnah menjadikan perkara makan yang halal ini sebagai salah satu<br />
akidahnya. Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Sesungguhnya ada hamba-hamba<br />
Allah yang karenanya Allah menghidupkan negeri dan memberi hidup untuk<br />
penghuninya. Mereka adalah para pengikut Sunnah. Barangsiapa yang<br />
memastikan apa pun yang memasuki rongga perutnya adalah makanan yang<br />
halal, dia termasuk hizbullah, golongan Allah ta’ala.”<br />
Ibnu Rajab, mengomentari pernyataan Fudhail, berkata, “Yang demikian<br />
itu karena makan yang halal adalah perkara terpenting yang dijaga oleh<br />
Nabi saw dan para sahabat.”</p>
<p>Syaikh ash-Shabuni menyifati Ahlulhadits dan Sunnah, bahwa mereka<br />
adalah orang-orang yang bersikap ‘iffah dalam urusan makanan, minuman,<br />
pernikahan, dan pakaian.<br />
Abu Hurayrah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,<br />
<em>“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Baik dan Allah tidaklah</em><br />
<em> menerima amalan kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah telah</em><br />
<em> memerintahkan kaum mukminin sebagaimana perintah-Nya kepada para</em><br />
<em> Rasul. ‘Wahai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan</em><br />
<em> kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa</em><br />
<em> yang kamu kerjakan.’ (Al-Mu’minun: 51) Allah juga berfirman, ‘Wahai</em><br />
<em> orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik</em><br />
<em> yang Kami berikan kepadamu.’ (Al-Baqarah: 172) Setelah itu Rasulullah</em><br />
<em> menceritakan keadaan seseorang yang telah lama bepergian, rambutnya</em><br />
<em> kusut penuh dengan debu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke arah</em><br />
<em> langit sembari berdoa, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku,’ padahal</em><br />
<em> makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya juga haram, serta ia</em><br />
<em> dibesarkan dari yang haram. Lantas bagaimana mungkin doa yang ia</em><br />
<em> panjatkan akan dikabulkan?’.”</em></p>
<p>Berkenaan dengan hadits ini Ibnu Rajab menulis, <em>“Salah satu faktor</em><br />
<em> terbesar tercapainya amal yang baik bagi seorang mukmin adalah</em><br />
<em> kebaikan makanannya: hendaknya makanan halal. Dengan makanan halal</em><br />
<em> itulah amalnya menjadi bersih… Hadits ini pun mengisyaratkan, amal</em><br />
<em> tidak akan diterima dan tidak bersih melainkan dengan hanya makan</em><br />
<em> makanan yang halal. Juga, makanan haram merusak amal dan menghalangi</em><br />
<em> penerimaannya.”</em> Wallahu al-Muwaffiq.</p>
<p>Sumber: Majalah YDSUI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/02/syubhat-dalam-sebutir-telur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas, Setan Bergentayangan Ketika Malam Menjelang</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/02/awas-setan-bergentayangan-ketika-malam-menjelang/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/02/awas-setan-bergentayangan-ketika-malam-menjelang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 11:14:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>
		<category><![CDATA[setan gentayangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Qodri Fathurrohman Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat. Malam pun mulai datang sementara kegelapan perlahan mulai menyelimuti bumi. Adzan maghrib berkumandang mengingatkan insan beriman untuk segera meninggalkan kesibukan dan berangkat memenuhi panggilan, shalat berjamaah di masjid. Namun, tampak beberapa anak kecil masih asyik bermain-main, berkejaran di pekarangan sebuah rumah. Sesekali, mereka berlari ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Qodri Fathurrohman</strong></p>
<p>Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat. Malam pun mulai datang sementara kegelapan perlahan mulai menyelimuti bumi. Adzan maghrib berkumandang mengingatkan insan beriman untuk segera meninggalkan kesibukan dan berangkat memenuhi panggilan, shalat berjamaah di masjid. Namun, tampak beberapa anak kecil masih asyik bermain-main, berkejaran di pekarangan sebuah rumah. <span id="more-569"></span>Sesekali, mereka berlari ke jalanan kampung. Di teras sebuah rumah, seorang ibu terlihat tengah asyik ngobrol dengan tetangganya sambil menyuapi bayinya, beralasan “mencari angin” karena si bayi kepanasan di dalam rumah.</p>
<p>Pemandangan seperti itu sering kita dapatkan di sekitar kita, terutama di daerah pedesaan. Anak-anak mereka dibiarkan begitu saja berkeliaran di luar rumah, tanpa pencegahan dan tanpa penjagaan. Tahukah kita bahwa pada saat yang demikian itu setan, makhluk yang jahat, musuh manusia, bertebaran sehingga mengganggu anak-anak kita?</p>
<p>Ada sebuah kejadian yang bisa kita ambil pelajaran. Di sebuah sekolah di Denpasar ‘gempar’ akibat ada anak yang kesurupan, anehnya lagi ketika anak yang menderita kesurupan ini di bawa ke ruang guru,  secara bersamaan beberapa anak lain ikut kesurupan. Anak yang kesurupan berteriak histeris, mengeluarkan tenaga yang luar biasa dan matanya mendelik. Karena baru pertama kali terjadi dan bersifat masal, banyak orang tua yang khawatir, para guru kebingungan mencari jawabannya, sekolahpun diliburkan.</p>
<p>Kesurupan yang sering terjadi pada anak-anak,  salah satu penyebabnya adalah karena kesalahan orang tua yang lengah dalam menjaga dan melindungi anak-anaknya dari gangguan setan. Padahal Islam telah memberikan sebuah tuntunan lewat lisan Rasul-Nya, upaya preventif menyelamatkan anak-anak dari gangguan setan.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda:</p>
<p dir="RTL">إِذَا اسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ – أَوْ كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – فَكُفُّوا صِبْيَا نَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْتَشِرُ حِيْنَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقْ بَابَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ الله… الْحَدِيْثَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka, tutuplah pintumu, dan sebutlah nama Allah (dengan mengucapkan bismillah)…” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:</p>
<p>“Dalam hadist ini terdapat sejumlah kebaikan dan adab yang mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat. Nabi saw memerintahkan umatnya untuk melakukan adab-adab ini karena dengan melakukannya berarti menempuh sebab keselamatan dari gangguan setan. Setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup dan tidak dapat pula mengganggu anak kecil dan selainnya apabila dilakukan perkara ini (dengan menyebut nama Allah/mengucapkan bismillah).”</p>
<p>Ibnul Jauzi rhm. menyatakan bila anak-anak kecil berkeliaran di luar rumah pada waktu tersebut dikhawatirkan mereka akan mendapat gangguan dari setan sementara anak-anak umumnya belum dapat berdzikir dimana dengannya bisa membentengi diri mereka dari setan. Setan ini ketika bertebaran mereka bergantungan dengan apa yang memungkinkan bagi mereka untuk bergantung.</p>
<p>Al-Mubarakfuri rhm. menyatakan bahwa setan ini bisa dikatakan tertolak untuk masuk ke rumah seseorang dari seluruh sisinya dengan barakah tasmiyah (ucapan bismillah). Dalam hadist hanya disebutkan perintah menutup pintu (dengan membaca bismillah) karena pintu merupakan bagian yang paling mudah untuk dilalui ketika masuk ke dalam rumah. Bila setan ini tertolak untuk masuk lewat pintu (karena pintunya tertutup dengan mengucapkan bismillah) maka tentunya setan ini lebih tertolak lagi untuk masuk ke dalam rumah lewat bagian rumah yang lebih sulit dilalui.</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rhm. berkata: “Menyebut nama Allah akan memisahkan setan dari melakukan perkara-perkara yang disebutkan. Dengan demikian, bila tidak disebut nama Allah, setan bisa melakukan perkara-perkara tersebut.”</p>
<p>Rasulullah saw bersabda:</p>
<p dir="RTL">إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ الله عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَ لاَ عَشَاءَ. وَ إِذَ دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ الله عِنْدَ دُخُوْ لِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ. وَ إِذَا لَمْ يَذْكُرِ الله عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَيْتَ وَالْعَشَاءَ.</p>
<p>“Apabila seseorang masuk ke rumahnya dalam keadaan berzikir kepada Allah ketika masuknya dan ketika memakan makannya, berkatalah setan: Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam. Kalau orang itu masuk rumah, dia tidak berzikir ketika masuknya, berkatalah setan: Kalian mendapatkan tempat bermalam. Dan bila dia tidak berzikir ketika makan, berkatalah setan: Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” (HR. Muslim)</p>
<p>Maka sebagai orang tua, kita hendaknya berkomitmen dengan perintah Nabi saw untuk menjaga dan menghentikan anak-anak kecil kita dari bermain-main, bercanda dan berkeliaran pada saat matahari tenggelam. Kita ajak mereka masuk ke dalam rumah dan kita tutup pintu dengan mengucapkan basmalah. Dengan demikian semoga mereka terjaga dari gangguan setan yang mulai bergentayangan pada waktu menjelang malam.  Wallahul Musta’an.</p>
<p>sumber: Majalah YDSUI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/02/awas-setan-bergentayangan-ketika-malam-menjelang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perayaan Maulid Nabi, Bukti Cinta Rasul?</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/01/perayaan-maulid-nabi-bukti-cinta-rasul/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/01/perayaan-maulid-nabi-bukti-cinta-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 02:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta rasul]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Fajrun Mustaqim Salah satu bentuk yang katanya termasuk dari cinta Rasul adalah perayaan maulid Nabi saw. Maulid berarti waktu kelahiran, yaitu merayakan kelahiran nabi Muhammad saw, dengan menampakan kesenangan serta kegembiraan. Biasanya perayaan ini disertai dengan pembacaan sejarah kelahiran Nabi saw, kejadian-kejadian yang pernah menimpanya, mu’jizat-mu’jizat beliau, dan juga urutan Ahli bait beliau. Lafadz [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Fajrun Mustaqim</strong></p>
<p>Salah satu bentuk yang katanya termasuk dari cinta Rasul adalah perayaan maulid Nabi saw. Maulid berarti waktu kelahiran, yaitu merayakan kelahiran nabi Muhammad saw, dengan menampakan kesenangan serta kegembiraan. Biasanya perayaan ini disertai dengan pembacaan sejarah kelahiran Nabi saw, kejadian-kejadian yang pernah menimpanya, mu’jizat-mu’jizat beliau, dan juga urutan Ahli bait beliau. Lafadz dan bentuk perayaan pun bisa berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainya.<span id="more-562"></span></p>
<p>Sering-sering acara ini menuju kepada hal-hal yang berlebihan mengenai diri Rasul saw. Dengan sengaja atau tanpa sengaja, mereka memberikan sifat rububiyah kepada diri Rasul saw, padahal hanya Allah ta’ala yang memilikinya. Dan ironisnya, mereka justru lalai dengan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah saw, dari kewajiban-kewajiban atau sunah-sunanya yang semestinya diikuti. Padahal inilah sebenarnya yang menunjukan  cintanya kepada Rasul saw.</p>
<p>Kegiatan yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin ini, tak luput dari dalih atau alasan, dengan mencoba memplintirkan sebuah ayat atau hadits. Mereka katakan,”Apa salahnya kita merayakan hari itu, toh di dalamnya banyak bershalawat  kepada Nabi saw, sebagaimana dalam surat Al-Ahzab:56”. Allah ta’ala berfirman,”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” QS Al-Ahzab:56</p>
<p>Bershalawat kepada Rasul dan keluarganya tentu sangat dianjurkan, hal itu jelas bila tidak dikaitkan dengan perayaan tertentu yang tidak ada tuntunannya. Dan akan menjadi sebuah amalan yang sia-sia bila tidak diikuti dengan memperbanyak belajar sunah-sunah Rasulullah saw dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, hingga dzikir kepada nabi saw menjadi selalu hidup. Dan sikap senang atas diri nabi saw, adalah bila senang dengan apa yang telah dibawanya, hingga mampu mengikuti semua ajarannya. Lebih dari itu, para sahabat, sebagai genarasi pertama Islam, yang telah lama bersama Rasulullah saw, tidak melakukan hal demikian.</p>
<p><strong>Hakikat Cinta Rasul saw</strong></p>
<p>Cinta kepada Rasulullah saw semestinya melebihi cinta kita kepada diri kita sendiri. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Umat bin Khattab ra.”suatu ketika Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah saw,”engkau lebih kucintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Maka Rasulullah saw bersabda,”Tidak wahai Umar, akan tetapi sampai diriku lebih kau cintai dari pada dirimu sendiri”. Kemudian Umar bin Khattab ra. berkata,”Demi Allah, engkau  sekarang lebih kucintai dari pada diriku sendiri”.”Sekarang engkau benar wahai Umar” tambah Nabi”. HR Bukhari</p>
<p>Dan ketahuilah, bahwa cinta ini tidak akan sempurna kecuali dengan adanya keta’atan kepada Allah dan RasulNya. Allah ta’ala berfirman:</p>
<p>“Katakanlah:&#8221;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Al-Imran;310</p>
<p>Kecintaan kepada Rasul akan terbukti bila bertentangan dengan cinta kepada yang lainnya. Apakah akan mengutamakan cintanya kepada Rasul ataukah sebaliknya. Bila mendahulukan cintanya kepada Rasul, berarti telah membuktikan akan kebenaran cintanya kepadanya.</p>
<p>Menurut Ibnu Rajab, cintai kepada kepada Rasul Ada dua derajat; <strong>pertama</strong>,  yang menjadi sebuah kewajiban; ta’at kepadanya dengan melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangannya, meyakini semua berita yang dibawanya dan pasrah dengan semua yang telah datang darinya.</p>
<p><strong>Kedua,</strong>  menjadi perbuatan sunnah, yaitu dengan mengikuti sunah-sunahnya, akhlaknya, adabnya, mencotoh cara bergaul dengan keluarganya, saudara-saudaranya, mencontoh akhlaknya yang dzahir berupa zuhud di dunia, sangat merindukan akhirat, kedermawanan, sikap tawadhu’, juga akhlaknya yang batin berupa takut kepada Allah ta’ala dan mencintainya, rindu untuk bertemu denganNya, ridha dengan semua ketentuanNya, menyandarkan diri dan bertawakal kepadaNya lalu menjauhi semua bentuk sesembahan yang dapat memalingkan hati dari ibadah kepadaNya.</p>
<p>Dengan demikian, cinta kepada Rasullah saw bukanlah sebuah pengakuan dengan ucapan semata. Karena seandainya cukup dengan ucapan, niscaya semua orang akan mudah mengatakannya. Hasan Al-Basri berkata,”sekelompok manusia berkata kepada Rasulullah saw,”Wahai Muhammad, kami mencintai rabb kami, maka Allah menurunkan ayatNya (Ali Imran:31): Katakanlah:&#8221;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Maka mengikuti semua pentunjuk nabi Muhammad saw tanda akan kecintaan kepadanya.</p>
<p><strong> Antara Ifrat Dan Tafrit(lalai dan berlebihan)</strong></p>
<p>Kewajiban seorang muslim, adalah mengimani akan adanya kerasulan Nabi Muhammad saw, mengimani seluruh berita yang dibawanya, menjadikannya sebagai suri tauladan dalam kehidupannya, dan mencitainya melebihi cintanya kepada apa-apa yang dia cintai. Allah ta’ala berfirman,”Katakanlah:&#8221;Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya&#8221;. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.QS At-Taubah:24</p>
<p>Namun, satu sisi Rasulullah saw melarang umatnya agar tidak memiliki sikap berlebihan atas dirinya, beliau adalah hamba Allah ta’ala yang tidak memiliki sifat uluhiyah atau rububiyah. Rasulullah saw bersabda:</p>
<h2 dir="RTL">لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ</h2>
<p>“Janganlah sikap kalian berlebihan kepadaku sebagaimana sikap orang-orang Nasrani kepada putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah hambaNya, maka katakanlah; hamba dan rasul Allah”. HR Bukhari</p>
<p>Maka cara mencintai rasul pun harus mengikuti ajaran-ajarannya yang dibenarkan dan disyari’atkan, agar kita tidak terjebak dalam dua jurang kesesatan yang berlawanan, yaitu sikap <em>ifrat</em> dan <em>tafrit</em> (lalai dan berlebihan). Para Salaf berkata:”Tidaklah Allah ta’ala memerintahkan kecuali bagi syaithan ada dua godaan: yaitu sikap lalai dan sikap berlebihan, dia tidak menghiraukan dengan yang mana manusia dapat terjerumus”. <em>WaAllahu A’lam</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/01/perayaan-maulid-nabi-bukti-cinta-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Maulud Nabi, Bid’ah yang jadi tradisi</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/01/peringatan-maulud-nabi-bidah-yang-jadi-tradisi/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/01/peringatan-maulud-nabi-bidah-yang-jadi-tradisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 03:50:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta rosul]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran nabi]]></category>
		<category><![CDATA[maulud nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=556</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Qodri Fathurrohman Pada setiap bulan Rabiul Awal, ada satu tradisi tahunan yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW atau yang lebih terkenal dengan sebutan maulud nabi. Biasanya dalam acara tersebut disenandungkan kasidah yang di dalamnya terkandung unsur pengkultusan terhadap Nabi SAW hingga terjadi pengagungan yang melebihi pengagungannya kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh:  Qodri Fathurrohman</strong></p>
<p>Pada setiap bulan Rabiul Awal, ada satu tradisi tahunan yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW atau yang lebih terkenal dengan sebutan maulud nabi. Biasanya dalam acara tersebut disenandungkan kasidah yang di dalamnya terkandung unsur pengkultusan terhadap Nabi SAW hingga terjadi pengagungan yang melebihi pengagungannya kepada Allah <em>ta&#8217;ala.</em> <span id="more-556"></span>Selain itu dibacakan pula barzanji atau kisah tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Lalu ketika sampai pada perkataan: “dan lahirlah Musthafa SAW”, maka hadirin serentak berdiri. Mereka beranggapan bahwa ruh Rasulullah telah datang.</p>
<p>Paling tidak ada dua alasan kenapa mereka memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW, pertama karena hanya ingin meniru-niru orang Nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi Isa AS atau yang kedua sebagai bentuk kecintaan dan pengagungan mereka  kepada Rasulullah saw atas jasa-jasa beliau kepada umat Islam. Ketika ada sebagian orang mengingatkan bahwa hal tersebut termasuk perbuatan bid’ah karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah, begitu pula generasi salaf yang merupakan generasi terbaik umat ini, mereka berkata “Iya memang bid’ah, tapi itukanbid’ah hasanah.”</p>
<p><strong>Awal mula kemunculannya </strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitabnya<em> Al-Bidayah wan Nihayah </em>bahwa Daulah Fathimiyyah ‘Ubaidiyyah yang memerintah Mesir dari tahun 357 H-567 H adalah yang pertama-tama merayakan perayaan-perayaan di dalam Islam yang banyak sekali jumlahnya, diantaranya perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Padahal mereka adalah orang-orang Zindiq (menampakkan keislaman untuk menyembunyikan kekafiran) Al-‘Ubaidiyyun dari golongan Syi’ah Rafidhah keturunan Abdullah bin Saba Al-Yahudi.Ada pula yang mensinyalir bahwa mereka dari orang Majusi (penyembah api) bahkan ada yang mengatakan mereka berasal dari kelompok Atheis. Jadi tidak mungkin mereka melakukan yang demikian karena cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi karena ada maksud lain yang tersembunyi.</p>
<p>Pendapat lain mengatakan bahwa pertama kali yang merayakan maulud nabi adalah Shalahudin Al-Ayubi, yang menjabat Gubernur di Haramain (Makkah dan Madinah) dari tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub. Shalahuddin mempunyai niat untuk menghidupkan kembali semangat juang umat Islam dengan cara meningkatkan kecintaan umat kepada Nabi mereka.. Maka Shalahuddin sebagai gubernur haramain menganjurkan kepada seluruh jamaah haji, agar setelah kembali ke kampung halaman masing-masing, mereka segera mempersiapkan diri untuk menyambut perayaan maulud nabi di mana saja berada. Peringatan tersebut akan dimulai pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 580 Hijriah (1184 M).  Namun perlu diketahui bahwa sambutan yang dilakukan Shalahuddin ini mendapat pertentangan dari para ulama. Di antara sebabnya adalah karena sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Begitu pula hari raya resmi menurut Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.</p>
<p><strong>Bukti cinta kepada Rasul?</strong></p>
<p>Mencintai Rasulullah adalah sebuah kewajiban setelah cinta kepada Allah SWT. Keimanan seseorang tidaklah sempurna hingga ia mencintai Nabi SAW melebihi kecintaannya kepada diri sendiri, anak-anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia. Sebab beliau adalah orang yang mengenalkan manusia kepada Allah, yang menyampaikan syariat-Nya dan menjelaskan hukum-hukum-Nya. Sungguh besar jasa beliau terhadap umat Islam.</p>
<p>Parasahabat adalah orang yang paling cinta dan paling hormat kepada Rasululloh saw. Bahkan ketika Rasulullah saw berbicara kepada mereka, mereka tidak berani menajamkan pandangannya ke wajah Rasulullah SAW sebagai bentuk pengagungan mereka kepada beliau. Saking cintanya, merekapun siap menjadi tameng hidup bagi beliau di medanpertempuran. Meski demikian, mereka tidak berlebih-lebihan dalam menyanjung dan memuji Rasulullah saw sehingga mengangkat beliau di atas derajat para nabi dan rasul serta menisbatkan sebagian sifat ilahiyah kepada-Nya. Ketika ada salah seorang sahabat memanggil beliau dengan sebutan, “Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami..,” serta merta beliau bersabda: <em>“Janganlah kalian terbujuk oleh syetan, aku adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian menyanjungku di atas derajat yang Allah berikan kepadaku.”</em> Meski sebenarnya beliau layak dan berhak menyandang sebutan tersebut namun dengan penuh ketawadhu’an beliau lebih senang dipanggil dengan sebutan hamba dan Rasul-Nya.</p>
<p>Mestinya kecintaan kita kepada beliau kita ungkapkan dengan meneladani, mentaati dan mengikuti perintah beliau, menghidupkan sunah-sunahnya, menyebarkan agama yang dibawanya serta memperjuangkannya dengan segenap kekuatan kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bid’ah hasanah?</strong></p>
<p>Jika ada yang menganggap perkara tersebut adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan merupakan tradisi baik yang perlu dilestarikan, berarti dia telah menganggap ada amalan ibadah yang baik yang belum diajarkan oleh Rasulullah SAW dan tidak diamalkan oleh para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Itu maknanya menuduh Rasulullah SAW berkhianat, karena beliau tidak menyampaikan satu kebaikan yang dia kerjakan sekarang ini.</p>
<p>Padahal Rasulullah SAW tidak meninggalkan satu kebaikan pun, kecuali beliau telah mengajarkannya. Abu Dzar Al Ghifary RA berkata, <em>&#8220;Sungguh Rasulullah SAW telah meninggalkan kami dan tidak ada satu burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali telah disebutkan kepada kita ilmu tentangnya.&#8221; </em>(HR. Ahmad) Yang demikian karena mengajarkan kebaikan adalah amanah yang Allah SWT berikan kepada setiap Rasul, sebagaimana sabda beliau: <em> &#8221;Sesungguhnya tidak ada satu nabi pun sebelumku, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang telah diketahuinya&#8221; </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Kesimpulannya, mengadakan peringatan maulid Nabi meski tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan Rasulullah tetap  termasuk perbuatan bid’ah. Karena pendekatan diri kepada Allah dan pengagungan kepada Rasul-Nya adalah termasuk ibadah, padahal ibadah tidak akan diterima oleh Allah kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlash dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Apalagi jika peringatan tersebut berisi acara-acara yang mengandung kemungkaran bahkan menjurus kepada kesyirikan seperti ikhtilath (campur baurnya laki-laki dan wanita), memuji Rasulullah dengan cara berlebih-lebihan dan menganggap ruh Rasulullah datang pada acara tersebut. <em>Wallahu musta’an. </em></p>
<p><strong>Sumber: majalah Ar-Risalah edisi 81</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/01/peringatan-maulud-nabi-bidah-yang-jadi-tradisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Akhirat</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/01/generasi-akhirat/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/01/generasi-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 02:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyah]]></category>
		<category><![CDATA[generasi akhirat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=539</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tengku Azhar Shahabat Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- pernah memberikan wasiat, وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ “Masing-masing dari keduanya memiliki generasi (penggemar), maka jadilah generasi akhirat, dan janganlah menjadi generasi dunia, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Tengku Azhar</p>
<p><strong></strong>Shahabat Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- pernah memberikan wasiat,</p>
<p>وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ</p>
<p>“Masing-masing dari keduanya memiliki generasi (penggemar), maka jadilah generasi akhirat, dan janganlah menjadi generasi dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah tempat berjuang (beramal) belum ada perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan, tidak ada lagi amal.” (HR. Al-Bukhari)<span id="more-539"></span><br />
Generasi akhirat mungkin jarang diperbincangkan, apalagi didambakan banyak orang. Karena memang sebagian orang masih ragu dengan alam akhirat, apakah nyata ataukah sekedar dongeng (mitos) belaka. Memang negeri akhirat adalah ghaib (abstrak), belum terjadi, tetapi pasti terjadi. Dan generasinya pun juga pasti ada.</p>
<p>Semua manusia bergerak dan berusaha demi kenikmatan yang menjadi tujuan. Garis besarnya ada dua titik akhir yang diharapkan. Ada yang menginginkan dunia sebagai terminal akhir perjalanan, ada pula yang menatap lebih jauh ke depan, mereka jadikan akhirat sebagai akhir perjalanan yang didambakan. Masing-masing titik tujuan, ada penggemarnya. Ada yang banting tulang demi nikmat dunia yang didamba, ada yang bekerja keras demi kejayaan hidup setelah dunia menjadi sirna.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ اْلأَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ</p>
<p>“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)</p>
<p>Sebagai mukmin sejati, akhirat adalah terminal dan tujuan terakhir kita. Apapun yang kita perbuat di dunia ini adalah wasilah (jembatan) untuk kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.<br />
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- :</p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ &#8211; رضى الله عنهما &#8211; قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; بِمَنْكِبِى فَقَالَ « كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ » . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memegang pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah kamu di dunia seperti orang asing, atau orang yang sedang dalam perjalanan (untuk mampir sementara)’. Dan Ibnu Umar berkata, ‘Apabila telah datang waktu soremu, maka jangan menunggu-nunggu datangnya waktu pagi. Jika telah datang waktu soremu, maka jangan menunggu-nunggu datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhari)</p>
<p><strong>Karakter Generasi Akhirat</strong></p>
<p>Setiap generasi memiliki karakter. Generasi akhirat memiliki karakter sebagaimana generasi dunia juga memiliki karakter.<br />
Dunia diibaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih hina dari bangkai cempe (anak kambing). Perumpamaan yang sangat pantas juga bagi para pemuja dan pemburunya. Wal’iayadzubillah.<br />
Para ulama juga telah memberikan perumpamaan tentang dunia dengan perumpamaan yang cukup rendah dan hina.</p>
<p>Perumpamaan pertama datang dari Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi –rahimahullah-. Beliau berkata, “Dunia itu laksana biji-bijian yang dikumpulkan semut di musim panas sebagai simpanan menghadapi musim dingin. Tanpa sadar, tatkala semut sedang asyik membawa sebutir biji di mulutnya, datanglah seekor burung yang mematuk sang semut beserta sebutir biji yang sedang dibawanya. Maka semut itu tak sempat menikmati makanan yang dikumpulkannya, tidak pula mendapatkan apa yang diharapkannya.” Terapkanlah permisalan tersebut, di mana biji-bijian itu adalah kenikmatan dunia, semut itu adalah manusia, sedangkan burung tersebut ibarat malakul maut. Betapa banyak manusia sibuk mengumpulkan harta, hingga kematian tiba-tiba menyergapnya di saat dia masih mengumpulkan dunianya, dan dia belum sempat mengenyam semua hasil jerih payahnya.<br />
Perumpamaan kedua datang dari seorang ulama yang sangat faqih di Abad 6 H, Ibnu Al-Jauzi –rahimahullah-. Beliau mengumpamakan dunia laksana perangkap yang ditebar di dalamnya biji-bijian. Sedangkan manusia ibarat seekor burung yang menyukai biji-bijian. Burung-burung itu hanya asyik menikmati bijian-bijian itu, tanpa menaruh waspada terhadap perangkap yang akan menjeratnya sekejap mata. Cukup jelas, pemburu dunia terperangkap kenikmatan yang menipu, akhirnya mendekam dalam kesengsaraan tanpa batasan waktu.<br />
Perumpamaan yang lebih menohok dibuat oleh senior tabi’in, Imam penduduk Bashrah, Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah-. Beliau berkata, “Wahai anak Adam, pisau telah diasah, dapur api telah dinyalakan, sedangkan domba masih sibuk menikmati makanan.”<br />
Berbeda dengan generasi akhirat, dunia bukanlah tujuan tetapi ladang dan jembatan menuju negeri akhirat yang kekal.</p>
<p><strong>Berikut beberapa karakter generasi akhirat, semoga kita bisa meneladaninya.</strong><br />
<strong>1. Peribadatan Secara Mutlak Hanya Untuk Allah.</strong><br />
Generasi akhirat adalah generasi yang mampu menundukkan dirinya kepada Allah Ta’ala, dengan penuh ketundukan dan kepasrahan.<br />
Sifat mereka tersebut Allah jelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. an orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam jannah) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Jannah itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan: 63-76)</p>
<p><strong>2. Bersifat jujur</strong><br />
Sifat ini merupakan karakter para generasi akhirat. Mereka berlaku jujur kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada dirinya sendiri.<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا<br />
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzaab: 23)<br />
Maka kejujuran merupakan syiar bagi mereka, dan menepati janji sebagai selimut bagi mereka. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar senantiasa bersama dengan golongan orang-orang yang jujur. Allah Ta’ala berfirman:<br />
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)<br />
Dan Allah Ta’ala juga telah memuji mereka dalam firman-Nya:<br />
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35)</p>
<p><strong>3. Berani Dalam Membela Kebenaran</strong><br />
Inilah sifat diantara akhirat, dan termasuk sifat seorang mukmin pemberani, berani dalam membela kebenaran serta berqudwah (mengambil suritauladan) kepada orang terdahulu dari para Nabi dan Rasul.<br />
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا<br />
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)<br />
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”<br />
Dan tentunya, masih banyak sifat dan karakter generasi akhirat lainnya. Yang pasti akhirat akan datang dan dunia akan berlalu. Jadilah kita generasi pemburu akhirat bukan pemburu dunia. Wallahu A’lamu bish Shawab.</p>
<p>sumber: Majalah YDSUI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/01/generasi-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persiapkan Bekal Untuk Kehidupan Akhirat</title>
		<link>http://an-nuur.org/2012/01/persiapkan-bekal-untuk-kehidupan-akhirat/</link>
		<comments>http://an-nuur.org/2012/01/persiapkan-bekal-untuk-kehidupan-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 02:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[bekal akhirat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-nuur.org/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Tafsir QS. Al-Hasyr: 18 Oleh: Tengku Azhar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tafsir QS. Al-Hasyr: 18</strong><br />
<strong>Oleh: Tengku Azhar</strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)<br />
<span id="more-536"></span><br />
<strong>Tafsir Ayat</strong></p>
<p>Al-Mufassir Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.”</p>
<p>Jangan sampai kalian menyesal, ketika kematian menjemput kalian sama sekali tidak memiliki bekal, dan kemudian kalian meminta penangguhan kepada Allah. Padahal itu mustahil akan terjadi.<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ . وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ . وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ</p>
<p>“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)</p>
<p>Imam Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi dalam Kitab Tafsirnya ‘Ruhul Ma’ani’ berkata, “Setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan di akhirat kelak. Karena hidup di dunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akhirat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya.”</p>
<p>Hidup di dunia kita mesti memiliki bekal sekalipun jumlahnya sedikit. Terlebih lagi kelak di akhirat. Kehidupan akhirat tidaklah sama dengan dunia. Di dunia kita masih bisa mendapatkan pertolongan dan bantuan dari orang lain jika kita kekurangan bekal dan penghidupan. Namun kelak di akhirat tidak akan ada orang yang bisa menolong kita sedikitpun, sekalipun itu orang terdekat kita.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ . يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ . وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ . وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ . لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيه<br />
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. Abasa: 33-37)</p>
<p>Pada ayat di atas (QS. Al-Hasyr ayat 18), Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan kaum mukminin agar tidak nekat mati. Karena kematian bukanlah akhir dari segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Mati adalah pindah dari kehidupan duniawi menuju kehidupan ukhrawi.</p>
<p>Kematian merupakan kelanjutan kehidupan dunia ini. Di akhirat, manusia kelak akan menerima dan mendapatkan ganjaran yang sesuai dan setimpal atas apa yang telah mereka perbuat di dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ</p>
<p>“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zilzalah: 7-8)<br />
Dan firman Allah:</p>
<p>وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا</p>
<p>“Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun.” (QS. Al-Kahfi: 49)</p>
<p><strong>Si Cerdas Yang Berbekal</strong></p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:</p>
<p>الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ</p>
<p>“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menahan hawa nafsunya dan beramal (berbekal) untuk kehidupan setelah mati. Orang yang bodoh adalah mereka yang mengumbar hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah (diampuni dosa-dosanya).” (HR. At-Tirmidzi)<br />
Inilah orang yang cerdas. Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan kemudian beramal untuk bekal di kehipan akhirat kelak. Adapun si Bodoh, mereka yang memperturutkan hawa nafsu mereka, dan kemudian mereka berangan-angan pasti akan di ampuni oleh Allah dan pasti masuk jannah. Tepatnya orang-orang bodoh akan berangan-angan: Kecil di manja, Muda kaya raya, Tua poya-poya, dan Mati masuk surga.</p>
<p>Untuk itu pulalah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita dari meremehkan kebaikan sekecil apapun ia. Karena kebaikan sekecil apapun kelak akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Syaikh Khalid Abu Shalih dalam bukunya Az-Zair Al-Akhir, telah menghimpunkan untuk kita beberapa amalan yang terbaik untuk kita jadikan sebagai bekal kelak di akhirat.<br />
Beliau –hafizhahullah- berkata:</p>
<p>Saudaraku, berikut ini merupakan bekal bagi kita untuk menuju alam akhirat. Dengan bekal ini diharapkan perjalanan panjang yang akan kita lalui menjadi mudah. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua dalam melewati alam barzakh, makhsyar, hisab, mizan, dan sirath. Bekal-bekal tersebut di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya dan hari Akhir serta Qadar baik dan buruk.</li>
<li>Menjaga shalat fardhu lima waktu di masjid dengan mengerjakannya secara berjama’ah pada waktunya, dengan penuh kekhusyu’an dan memahami makna-maknanya. Sedangkan bagi wanita, shalat di rumah adalah lebih utama.</li>
<li>Mengeluarkan zakat wajib pada waktunya sesuai dengan ukuran dan sifat-sifatnya yang telah disyari’atkan.</li>
<li>Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.</li>
<li>Haji yang mabrur, sebab tiada balasan baginya kecuali surga dan berumrah di bulan Ramadhan yang pahalanya setara haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.</li>
<li>Mengerjakan hal-hal yang sunnah, yaitu yang di luar shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji. Dalam hadits Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Dan senantiasalah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan hal-hal yang sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)</li>
<li>Segera bertaubat yang sebenarnya dari semua perbuatan maksiat dan munkar serta bertekad untuk memanfaatkan waktu-waktu yang tersedia dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan beragam jenis keta’atan.</li>
<li>Berbuat ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan riya’ dalam segala urusan. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 5)</li>
<li>Mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yang hanya bisa terealisir dengan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Baca: QS. Ali ‘Imran: 31)</li>
<li>Mencinta karena Allah, membenci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah. Dan konsekuensi dari hal ini adalah mencintai kaum mukminin sekali pun mereka jauh, dan membenci orang-orang kafir sekali pun mereka dekat.</li>
<li>Takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, rela hidup berkekurangan serta bersiap diri menyambut hari kepergian (saat kematian). Inilah hakikat takwa.</li>
<li>Bersabar atas bencana yang menimpa, bersyukur di saat mendapatkan kesenangan, merasa selalu dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap kondisi serta berharap mendapatkan karunia dan pemberian-Nya.</li>
<li>Bertawakkal dengan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Baca: QS. Al-Ma’idah: 23)</li>
<li>Menuntut ilmu yang bermanfa’at dan berusaha untuk menyebarkan dan mengajarkannya. (Baca: QS. Al-Mujadilah: 11; Ali &#8216;Imran: 187)</li>
<li>Mengagungkan Al-Qur`an dengan mempelajari dan mengajarkannya, menjaga batasan-batasan dan hukum-hukumnya, mengetahui halal dan haramnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)</li>
<li>Berjihad di jalan Allah, murabathah di jalan-Nya, tegar menghadapi musuh dan tidak lari dari medan peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Janganlah kamu mengangankan bertemu musuh, mintalah keselamatan kepada Allah; jika kamu bertemu mereka, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang.” (Muttafaqun ‘alaih)</li>
<li>Menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan seperti berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu-domba), mencaci, melaknat, berkata kotor dan musik. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih)</li>
<li>Menepati janji, menunaikan amanah, tidak berkhianat dan licik. (Baca: QS. Al-Ma&#8217;idah: 1; QS. Al-Baqarah: 283)</li>
<li>Tidak melakukan zina, minum khamr, membunuh jiwa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan haq, berbuat zhalim, memakan harta orang lain secara batil, memakan riba dan memakan sesuatu yang secara syari&#8217;at bukan miliknya. (Baca: QS. Al-A&#8217;raf: 33)</li>
<li>Wara’ (menjaga kesucian diri) dalam hal makanan dan minuman serta menghindari sesuatu yang tidak halal darinya. (Baca: QS. Al-Maidah: 3)</li>
<li>Berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali rahim, mengunjungi teman-teman, bersabar atas tingkah polah mereka, mengupayakan berbuat baik, terhadap orang dekat atau pun jauh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya dan barangsiapa yang menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di dunia yang dihadapi seorang mukmin, niscaya Allah akan menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat yang dihadapinya.&#8221; (Muttafaqun ‘alaih)</li>
<li>Menjenguk orang sakit, berziarah kubur, mengiringi jenazah, sebab hal itu dapat mengingatkan akhirat dan membuat zuhud dalam kehidupan di dunia.</li>
<li>Tidak memakai pakaian yang diharamkan seperti sutera, emas, tidak berpakaian melebihi mata kaki bagi laki-laki (Isbal) dan menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum.</li>
<li>Berhemat dalam nafkah, menjaga nikmat dan tidak berbuat mubazir. (Baca: QS. Al-Isra&#8217;: 26)</li>
<li>Tidak dengki, iri, memusuhi, saling membenci dan menjatuhkan kehormatan kaum Muslimin dan Muslimah dengan tanpa haq.</li>
<li>Beramar ma’ruf nahi munkar, berdakwah mengajak orang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara hikmah dan Mau’izhah Hasanah.</li>
<li>Berlaku adil terhadap manusia, tolong-menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa. (Baca: QS. Al-An’am: 152)</li>
<li>Berakhlak mulia seperti Tawadhu’ (rendah hati), kasih sayang, lemah lembut, malu, halus hati, menahan emosi, dermawan, tidak sombong, angkuh, dan sebagainya.</li>
<li>Menjalankan hak-hak anak-anak dan isteri secara penuh dan mengajarkan mereka masalah-masalah agama yang diperlukan.(Baca: QS. At-Tahrim: 06)</li>
<li>Memberi salam dan membalasnya, mendoakan orang yang bersin, memuliakan tamu dan tetangga, menutupi aib pelaku maksiat semampunya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang menutupi (aib) saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)</li>
<li>Zuhud di dunia, pendek angan-angan sebelum ajal menjemput.</li>
<li>Cemburu (sensitif) terhadap kehormatan, memicingkan mata dari hal-hal yang diharamkan.</li>
<li>Menghindari hal yang sia-sia dan bermain-main serta melakukan perkara-perkara positif.</li>
<li>Mencintai shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan keluarga beliau (pen), berlepas diri dari orang-orang yang membenci atau mencela mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencela para shahabatku, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia.” (HR. Ath-Thabarani, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)</li>
<li>Mendamaikan sesama manusia, menengahi beda pendapat di antara dua orang yang berselisih pendapat sehingga jurang perselisihan dan perpecahan tidak meluas.</li>
<li>Tidak mendatangi dukun, ahli nujum, para tukang sihir, para peramal dan sebagainya.</li>
<li>Wanita hendaknya patuh terhadap suaminya, menjaganya dalam harta, anak dan ranjangnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mena’ati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.!” (HR. Ibnu Hibban, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani)</li>
<li>Tidak berbuat bid’ah (mengada-ada) di dalam agama atau menyeru kepada kebatilan dan kesesatan.</li>
<li>Kaum wanita hendaknya tidak menyambung rambutnya dengan rambut lain (menyanggul atau rambut Wig), tidak mentato, mencukur alis, meratakan gigi dengan tujuan hanya untuk mempercantik diri.</li>
<li>Tidak mematai-matai kaum Muslimin dan mengungkap aurat serta menyakiti mereka. <strong>Wallahu A’lamu bish Shawab. Sumber: Majalah YDSUI</strong></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-nuur.org/2012/01/persiapkan-bekal-untuk-kehidupan-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

